Menstruasi sering banget dikaitkan otomatis dengan perempuan, padahal kalau kita ngomongin menstruator dan identitas gender, ceritanya jauh lebih luas dari itu. Ada banyak orang yang mengalami haid tapi tidak semuanya merasa nyaman, aman, atau diakui identitas gendernya. Di sisi lain, ada juga perempuan yang tidak mengalami menstruasi karena berbagai alasan, dan itu tidak membuat mereka “kurang perempuan”.
Sebagai Ponny, yang sudah bertahun-tahun ngobrol dengan banyak pembaca Womens Health Indonesia, aku sering dapat DM panjang soal rasa bingung, rasa tidak dianggap, sampai rasa malu ketika tubuh dan identitas gender terasa tidak “match” di mata orang lain. Di artikel ini, aku ingin ajak kamu melihat menstruasi bukan cuma dari sisi biologis, tapi juga dari sisi pengalaman hidup dan identitas yang sangat personal.
—
Memahami Menstruator dan Identitas Gender Secara Lebih Menyeluruh
Sebelum bahas lebih dalam, kita perlu lurusin dulu istilah dan cara pandang. Karena cara kita memaknai menstruator dan identitas gender bisa sangat memengaruhi bagaimana kita memperlakukan diri sendiri dan orang lain.
Apa Itu Menstruator dan Identitas Gender dalam Kehidupan Sehari hari
Menstruator adalah siapa pun yang mengalami menstruasi, titik. Jadi bukan sinonim dari “perempuan”, tapi lebih ke orang yang secara biologis punya siklus haid, apa pun identitas gendernya.
Identitas gender adalah bagaimana seseorang merasakan dirinya di dalam hati dan pikirannya. Bisa sebagai perempuan, laki laki, non biner, genderqueer, atau identitas lain di luar kategori tradisional. Identitas ini tidak selalu sama dengan jenis kelamin yang tertulis di akta lahir.
> “Aku baru merasa ‘klik’ waktu sadar bahwa menstruasi adalah fungsi tubuhku, tapi identitasku sebagai perempuan adalah sesuatu yang jauh lebih luas dari sekadar ada atau tidaknya darah haid setiap bulan.” – Ponny
Dalam kehidupan sehari hari, ini bisa kelihatan dari:
– Cara orang memanggilmu dan bagaimana kamu ingin dipanggil
– Cara kamu memilih pakaian dan gaya
– Ruang mana yang terasa aman buatmu, misalnya toilet, ruang ganti, atau ruang konsultasi kesehatan
Dan di tengah semua itu, menstruasi bisa jadi hal yang memperkuat rasa nyaman dengan tubuh, tapi juga bisa jadi sumber ketidaknyamanan kalau tidak sesuai dengan identitas gender yang kamu rasakan.
—
Siapa Saja Menstruator di Luar Label Perempuan
Waktu kita ngomongin menstruator dan identitas gender, penting banget untuk mengakui bahwa tidak semua orang yang menstruasi adalah perempuan, dan tidak semua perempuan mengalami menstruasi.
Menstruator dan Identitas Gender di Kalangan Perempuan Cisgender
Perempuan cisgender adalah perempuan yang identitas gendernya sama dengan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir. Kebanyakan pembaca mungkin masuk di kategori ini.
Buat banyak perempuan cis, menstruasi:
– Dianggap sebagai tanda “resmi jadi perempuan”
– Sering dikaitkan dengan kesuburan dan kemampuan punya anak
– Bisa jadi sumber kebanggaan, tapi juga bisa jadi sumber rasa malu atau nyeri yang mengganggu
Namun, tidak semua perempuan cis mengalami haid:
– Ada yang belum haid karena masih pubertas awal
– Ada yang siklusnya terhenti karena kondisi medis, terapi hormon, atau operasi
– Ada yang memasuki menopause
Ini penting: mereka tetap perempuan. Menstruasi bukan tiket masuk ke “klub perempuan yang sah”.
> “Aku pernah merasa gagal sebagai perempuan waktu siklusku berantakan dan dokter bilang aku mungkin akan sulit hamil. Butuh waktu lama buat aku berdamai bahwa identitasku tidak ditentukan oleh seberapa teratur kalender haidku.” – Ponny
Menstruator dan Identitas Gender pada Laki Laki Trans dan Orang Non Biner
Di sinilah obrolan tentang menstruator dan identitas gender sering jadi sensitif dan kadang memicu debat. Tapi justru karena itu, kita perlu ngomongin dengan lembut dan jelas.
– Laki laki trans adalah orang yang lahir dengan jenis kelamin yang dicatat sebagai perempuan, tapi identitas gendernya adalah laki laki.
– Orang non biner adalah mereka yang tidak merasa sepenuhnya laki laki atau perempuan.
Sebagian dari mereka masih punya rahim dan ovarium, sehingga bisa mengalami menstruasi:
– Laki laki trans yang belum menjalani terapi hormon tertentu
– Orang non biner yang secara biologis punya siklus haid
Buat mereka, menstruasi bisa terasa sangat mengganggu karena:
– Orang sekitar otomatis menganggap mereka “perempuan”
– Produk menstruasi, iklan, dan ruang diskusi soal haid hampir selalu memakai bahasa yang hanya menyasar perempuan
– Mengganti pembalut di toilet umum bisa memicu kecemasan, takut dihakimi, atau bahkan dilecehkan
> “Aku pernah dapat DM dari seorang laki laki trans yang cerita, ‘Kak, aku pakai hoodie tebal dan celana longgar tiap kali lagi haid, karena takut orang sadar aku lagi pakai pembalut. Rasanya kayak tubuhku mengkhianati identitasku.’ Itu bikin aku sadar, pembicaraan soal haid harus jauh lebih inklusif.” – Ponny
—
Tubuh, Hormonal, dan Emosi: Ketika Menstruator dan Identitas Gender Saling Bertemu
Selain aspek sosial, ada juga sisi fisik dan emosional yang bikin pengalaman ini makin kompleks.
Perubahan Tubuh Menstruator dan Identitas Gender yang Sering Tak Terlihat
Setiap menstruator, apa pun identitas gendernya, mengalami perubahan hormonal:
– Fluktuasi estrogen dan progesteron
– Perubahan mood, energi, dan nafsu makan
– Sensitivitas di payudara, perut kembung, nyeri pinggang
Buat perempuan cis, ini sering dianggap “biasa aja” walaupun tetap mengganggu. Tapi buat laki laki trans dan orang non biner, perubahan ini kadang terasa seperti:
– Pengingat yang menyakitkan bahwa tubuhnya masih dibaca sebagai “perempuan”
– Hal yang bertentangan dengan cara mereka ingin dilihat dan diperlakukan
> “Ada periode dalam hidupku ketika PMS bikin aku sangat sensitif. Aku marah karena orang menganggap emosiku ‘cuma karena hormon’. Padahal, di satu sisi, hormon memang berperan, tapi di sisi lain, aku juga punya emosi yang valid. Di titik itu aku belajar: tubuh boleh hormonan, tapi perasaan tetap harus dihargai.” – Ponny
Kesehatan Mental Menstruator dan Identitas Gender
Kalau kita gabungkan menstruasi dengan identitas gender yang sering disalahpahami, tekanan mental bisa berlipat:
– Rasa cemas setiap kali haid datang, terutama kalau harus ke sekolah, kampus, atau kantor
– Takut ditanya “kok kamu haid, bukannya kamu laki laki?”
– Rasa terisolasi karena tidak punya ruang aman untuk cerita
Banyak menstruator yang akhirnya:
– Menyembunyikan gejala
– Menunda periksa ke dokter kandungan karena takut diskriminasi
– Mengabaikan nyeri hebat, perdarahan berlebihan, atau gejala lain yang sebenarnya butuh perhatian medis
Ini berbahaya, karena kondisi seperti endometriosis, PCOS, atau anemia bisa tidak tertangani dengan baik.
—
Bahasa, Ruang, dan Produk: Mengubah Cara Kita Melihat Menstruator dan Identitas Gender
Cara kita ngomongin haid dan menyediakan fasilitas sangat menentukan kenyamanan semua menstruator.
Bahasa yang Lebih Inklusif untuk Menstruator dan Identitas Gender
Menggunakan istilah “menstruator” bukan berarti menghapus perempuan, tapi menambah ruang untuk orang lain yang juga mengalami haid. Kita bisa:
– Tetap bilang “perempuan dan menstruator lainnya” dalam edukasi
– Menghindari kalimat seperti “semua perempuan pasti haid” atau “kalau kamu haid berarti kamu perempuan sejati”
– Mengakui bahwa ada perempuan yang tidak haid dan ada orang bukan perempuan yang haid
> “Waktu pertama kali aku pakai istilah ‘menstruator’ di konten, ada yang protes. Tapi ada juga yang kirim pesan, ‘Kak, aku baru pertama kali merasa kehadiranku diakui dalam obrolan soal haid.’ Di situ aku yakin, sedikit perubahan bahasa bisa bikin orang merasa lebih ada.” – Ponny
Ruang Fisik dan Produk yang Ramah Menstruator dan Identitas Gender
Beberapa hal yang bisa bikin pengalaman menstruator lebih nyaman:
– Toilet umum dengan bilik tertutup rapat, tempat sampah di setiap bilik, dan tidak hanya di toilet bertanda “perempuan”
– Petunjuk atau poster edukasi yang tidak hanya menggambarkan perempuan feminin dengan rok dan rambut panjang
– Brand pembalut, tampon, atau menstrual cup yang memakai desain dan bahasa yang tidak terlalu mengkotakkan gender
Bayangkan seorang laki laki trans:
– Masuk ke toilet laki laki sambil bawa pembalut
– Tidak ada tempat sampah di bilik, jadi harus bawa keluar pembalut bekas
– Takut orang lain memperhatikan gerak geriknya
Hal sesederhana menambah tempat sampah di setiap bilik dan menghapus stigma di sekitar produk menstruasi bisa mengurangi kecemasan mereka.
—
Menjadi Support System bagi Menstruator dan Identitas Gender yang Beragam
Kalau kamu punya teman, pasangan, atau anggota keluarga yang pengalamannya berbeda, peranmu bisa sangat berarti.
Cara Sederhana Mendukung Menstruator dan Identitas Gender di Sekitar Kita
Beberapa langkah yang bisa kamu lakukan:
– Tanyakan, bukan mengasumsikan
“Kamu nyaman dipanggil apa?”
“Kalau lagi haid, ada yang bisa aku bantu?”
– Jangan bercanda tentang haid sebagai “hal cewek” di depan orang yang mungkin punya pengalaman berbeda
– Kalau kamu guru, tenaga kesehatan, atau HR di kantor, coba:
– Pakai istilah yang lebih luas saat edukasi
– Sediakan produk menstruasi gratis di toilet tanpa label yang menghakimi
– Bikin aturan yang tidak memaksa orang menjelaskan identitas gendernya hanya untuk dapat izin istirahat saat nyeri haid
> “Aku pernah syuting konten bareng seorang teman non biner. Dia bilang, ‘Pon, terima kasih sudah nggak otomatis bilang ‘kita para cewek’ pas bahas haid.’ Hal kecil seperti itu ternyata bisa bikin orang merasa dilihat.” – Ponny
Merawat Diri Sendiri sebagai Menstruator dan Identitas Gender Apa Pun Dirimu
Kalau kamu sendiri adalah menstruator, apa pun identitas gendermu, kamu berhak:
– Percaya bahwa pengalamanmu valid, meski beda dari cerita orang lain
– Mencari tenaga kesehatan yang menghargai identitasmu dan tidak menghakimi
– Menolak komentar yang mengecilkan rasa sakit atau emosi yang kamu rasakan saat haid
Beberapa cara merawat diri:
– Catat siklus haid, gejala fisik, dan mood untuk memahami pola tubuhmu
– Siapkan kit kecil berisi pembalut atau menstrual cup, obat nyeri, dan pakaian dalam cadangan
– Cari komunitas atau ruang diskusi yang aman, baik online maupun offline, di mana kamu bisa cerita tanpa takut dilabeli
> “Buatku, selfcare saat haid bukan cuma soal minum teh hangat dan pakai bantal pemanas. Itu juga tentang berani bilang ‘aku butuh istirahat’ dan ‘tolong hargai caraku melihat diriku sendiri’. Tubuhku, darahku, identitasku, semuanya layak dihormati.” – Ponny


Comment