Sebagai Ponny, beauty influencer yang sering bahas soal tubuh dan seks yang sehat, aku cukup sering dapat DM tentang alat kontrasepsi. Tapi setiap kali aku menyebut kondom perempuan, hampir selalu muncul respon kaget: “Hah, emang ada?” Ini sudah cukup menjelaskan kenapa kondom perempuan masih belum populer, bahkan di kalangan perempuan yang sebenarnya cukup melek informasi sekalipun.
Kondom perempuan masih belum populer: apa sih sebenarnya alat ini?
Sebelum kita bahas lebih jauh kenapa kondom perempuan masih belum populer, kita perlu kenal dulu sama alatnya. Banyak yang bahkan belum pernah lihat bentuknya, apalagi tahu cara pakainya.
Kondom perempuan masih belum populer karena banyak yang belum paham bentuk dan cara kerja
Kondom perempuan adalah selubung tipis berbahan lateks atau nitrile yang dimasukkan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual. Di kedua ujungnya ada cincin
– Cincin bagian dalam: dimasukkan ke dalam vagina, menahan kondom tetap di posisi
– Cincin bagian luar: berada di luar bibir vagina, menutup sebagian area vulva
Fungsinya
– Mencegah sperma masuk ke dalam vagina
– Mengurangi risiko penularan infeksi menular seksual
– Memberi perlindungan ganda kalau dipadukan dengan metode lain, misalnya pil
Beda dengan kondom laki laki yang dipakai di penis, kondom perempuan dipakai di dalam tubuh perempuan. Ini yang bikin banyak perempuan sebenarnya punya kontrol lebih besar atas perlindungan dirinya.
> “Pertama kali aku pegang kondom perempuan, jujur aku bengong. Bentuknya beda banget dari yang biasa kita lihat di iklan. Tapi justru setelah ngerti cara kerjanya, aku merasa ‘loh, kok ini nggak pernah dibahas dari dulu?’” – Ponny
Kondom perempuan masih belum populer karena jarang muncul di ruang publik
Coba ingat, kapan terakhir kali kamu lihat iklan kondom perempuan di TV, billboard, atau medsos brand besar? Hampir tidak pernah. Yang kita lihat selalu kondom laki laki, dengan pesan maskulin, macho, dan romantisasi momen intim.
Kondom perempuan seolah “disembunyikan” dari percakapan umum. Akhirnya banyak perempuan yang merasa ini adalah produk “aneh” atau “ekstrem”, padahal prinsipnya sama saja dengan kondom pada umumnya yaitu perlindungan.
Kenapa kondom perempuan masih belum populer padahal manfaatnya jelas?
Kalimat kondom perempuan masih belum populer sering muncul dalam laporan kesehatan reproduksi. Tapi jarang ada yang membedah alasan konkretnya dari sudut pandang perempuan yang benar benar bisa atau mau mencoba.
Kondom perempuan masih belum populer karena aksesnya susah dan pilihannya minim
Di banyak kota besar, kondom laki laki bisa dibeli di minimarket, apotek kecil, sampai vending machine di beberapa negara. Sementara kondom perempuan
– Sering hanya ada di apotek besar tertentu
– Kadang harus pesan dulu
– Jarang dipajang di rak depan, lebih sering “disimpan di belakang”
Ini bikin perempuan harus “berjuang ekstra” hanya untuk mencoba. Buat sebagian orang, harus bertanya ke kasir atau apoteker saja sudah bikin canggung.
> “Aku pernah keliling tiga apotek di satu mal besar cuma buat cari kondom perempuan. Dua apotek bahkan jawab ‘di sini nggak jual, Mbak, itu kan buat program tertentu’. Rasanya kayak aku minta sesuatu yang salah, padahal ini alat perlindungan.” – Ponny
Selain itu, pilihan merek dan ukuran juga sangat terbatas. Kalau kondom laki laki punya banyak varian tipis, bertekstur, wangi, dan lain lain, kondom perempuan biasanya hanya punya 1 2 varian. Ini bikin pengalaman pakai terasa kurang menyenangkan dan kurang “personalized” buat kebutuhan masing masing perempuan.
Kondom perempuan masih belum populer karena edukasi soal seks masih berat sebelah
Di kelas biologi atau pendidikan kesehatan, kalaupun seksualitas dibahas, fokusnya hampir selalu
– Menstruasi
– Kehamilan
– Kebersihan organ intim
Alat kontrasepsi yang sering disebut
– Pil
– Suntik
– IUD
– Kondom laki laki
Kondom perempuan jarang sekali masuk ke materi. Bahkan banyak tenaga kesehatan yang tidak secara aktif menawarkan atau menjelaskan pilihan ini kepada pasien perempuan muda.
Padahal, kalau sejak awal perempuan tahu bahwa ada alat yang bisa dia kendalikan sendiri, mungkin ceritanya akan berbeda.
> “Aku baru tahu ada kondom perempuan setelah usia 20an, itu pun bukan dari tenaga kesehatan, tapi dari artikel luar negeri yang kebetulan aku baca. Di situ aku sadar, selama ini informasi yang kita terima memang sangat terbatas.” – Ponny
Kondom perempuan masih belum populer karena masih dianggap “aneh” oleh pasangan
Satu hal yang sering dikeluhkan followers ketika cerita ke aku soal percobaan pertama pakai kondom perempuan adalah reaksi pasangan
– “Kok ribet banget sih?”
– “Nggak usah pakai itu kali, kan aku sudah biasa pakai kondom biasa.”
– “Nanti aku nggak ngerasa apa apa dong?”
Ada anggapan bahwa kondom perempuan mengurangi sensasi, padahal banyak studi dan pengalaman pakai yang justru bilang sebaliknya
– Beberapa laki laki merasa sensasi lebih natural karena kondom perempuan tidak menekan penis seketat kondom laki laki
– Perempuan bisa mengatur posisi dan kenyamanan sendiri
– Cincin luar bisa memberikan stimulasi tambahan di area vulva
Namun karena belum banyak yang mencoba, yang beredar justru mitos dan asumsi negatif.
Kondom perempuan masih belum populer: mitos yang bikin banyak orang ragu mencoba
Salah satu penghalang terbesar kenapa kondom perempuan masih belum populer adalah tumpukan mitos yang jarang diluruskan.
Kondom perempuan masih belum populer karena dikira sulit dipakai dan bikin sakit
Banyak perempuan membayangkan proses memasukkan kondom perempuan itu rumit dan menyakitkan. Padahal kalau sudah tahu tekniknya, prosesnya bisa jadi sangat natural.
Beberapa poin penting
– Kondom dimasukkan sebelum penetrasi, bahkan bisa 30 menit sebelumnya
– Posisi bisa sambil berdiri, jongkok, atau berbaring miring, mana yang paling nyaman
– Cincin dalam ditekan seperti angka 8, lalu didorong perlahan ke dalam vagina sampai terasa “pas”
– Cincin luar dibiarkan menggantung di luar, menutup sebagian vulva
Awal awal mungkin terasa kikuk, sama seperti pertama kali pakai tampon atau menstrual cup. Tapi seiring waktu, gerakan tangan akan terbiasa.
> “Percobaan pertama aku jujur agak kaku, butuh beberapa menit sampai posisinya pas. Tapi di percobaan ketiga, aku sudah bisa pakai jauh lebih cepat dan tenang. Kuncinya jangan panik, tarik napas, dan pakai pelumas kalau perlu.” – Ponny
Kondom perempuan masih belum populer karena dianggap hanya untuk “kelompok tertentu”
Ada juga stigma kalau kondom perempuan hanya untuk
– Pekerja seks
– Perempuan dengan banyak pasangan
– Program khusus di komunitas tertentu
Stigma ini bikin banyak perempuan yang sebenarnya ingin mencoba jadi mundur. Padahal kondom perempuan bisa dipakai oleh siapa saja yang ingin perlindungan tambahan, baik di hubungan jangka panjang maupun kasual.
Kondom perempuan tidak “mendefinisikan” siapa dirimu. Sama seperti kamu pakai sabuk pengaman bukan berarti kamu pengemudi yang berbahaya. Ini soal proteksi, bukan label.
Kondom perempuan masih belum populer karena harganya relatif lebih mahal
Dibanding kondom laki laki, harga kondom perempuan biasanya lebih tinggi per satuan. Ini membuatnya terasa kurang “ramah kantong” untuk pemakaian rutin.
Beberapa alasannya
– Produksi belum massal seperti kondom laki laki
– Distribusi terbatas
– Permintaan rendah sehingga harga tidak bisa ditekan
Namun di beberapa program kesehatan publik, kondom perempuan disediakan gratis atau dengan harga sangat murah. Sayangnya, tidak semua orang tahu cara mengakses program seperti ini.
Kondom perempuan masih belum populer padahal bisa memberi rasa kontrol yang berbeda untuk perempuan
Salah satu hal yang paling aku rasakan ketika mulai mengenal kondom perempuan adalah rasa kontrol yang berbeda. Bukan sekadar soal fisik, tapi juga mental.
Kondom perempuan masih belum populer karena perempuan belum merasa “berhak” mengatur
Di banyak budaya, urusan kondom dianggap “tanggung jawab laki laki”. Perempuan yang meminta pasangan memakai kondom kadang malah dianggap
– Tidak percaya
– Terlalu “berpengalaman”
– Terlalu banyak aturan
Kondom perempuan menawarkan alternatif
– Perempuan bisa mempersiapkan perlindungan sendiri
– Bisa dipakai tanpa harus menunggu pasangan setuju pakai kondom laki laki
– Memberi rasa aman ekstra, terutama bila ada kekhawatiran soal kesetiaan pasangan atau riwayat kesehatan
> “Ada follower yang cerita ke aku, dia merasa lebih tenang saat pakai kondom perempuan karena pasangannya sering menolak pakai kondom dengan alasan ‘nggak enak’. Dia bilang, ‘Aku baru kali ini merasa tubuhku benar benar milikku, bukan cuma ikut keputusan pasangan.’ Itu kuat banget buat aku.” – Ponny
Kondom perempuan masih belum populer karena jarang dibahas dalam percakapan sesama perempuan
Coba bayangkan, seberapa sering kamu dan teman teman perempuanmu ngobrol terbuka soal
– Pil KB
– Nyeri haid
– Jerawat hormonal
Sekarang bandingkan dengan seberapa sering kalian bahas
– Kondom perempuan
– Pengalaman pertama pakainya
– Tips biar nyaman
Kemungkinan besar, hampir tidak pernah. Padahal obrolan santai antarperempuan adalah salah satu jalur tercepat penyebaran informasi yang real dan jujur.
Kalau semakin banyak perempuan berani cerita “Aku pakai dan ini pengalamanku”, kalimat kondom perempuan masih belum populer mungkin akan pelan pelan berubah menjadi “kondom perempuan mulai banyak dipakai”.
Kondom perempuan masih belum populer: bagaimana kalau kita mulai dari diri sendiri?
Kalimat kondom perempuan masih belum populer mungkin terdengar seperti laporan dingin di atas kertas. Tapi di balik itu, ada jutaan perempuan yang sebenarnya butuh lebih banyak pilihan, lebih banyak informasi, dan lebih banyak ruang untuk memutuskan sendiri soal tubuhnya.
Kondom perempuan masih belum populer tapi kamu berhak tahu cara mencoba dengan aman
Kalau kamu tertarik mencoba, beberapa hal yang perlu diingat
– Baca instruksi di kemasan dengan teliti
– Pilih waktu yang tidak terburu buru untuk percobaan pertama
– Komunikasikan dengan pasangan sebelum momen intim
– Gunakan pelumas berbasis air atau silikon bila terasa kering
– Jangan pernah pakai kondom perempuan dan kondom laki laki bersamaan karena bisa saling bergesekan dan robek
> “Menurut aku, mengenal kondom perempuan itu bagian dari self love juga. Kita belajar bilang: ‘Aku peduli sama tubuhku, dan aku mau kenal semua pilihan yang ada, bukan cuma yang paling sering diiklankan.’” – Ponny
Kamu tidak harus langsung suka. Kamu tidak harus langsung cocok. Tapi kamu berhak tahu, mencoba, dan memutuskan sendiri. Dan mungkin, dari satu perempuan yang berani mencoba dan cerita, akan muncul banyak perempuan lain yang akhirnya sadar bahwa selama ini mereka punya lebih banyak pilihan daripada yang diajarkan kepada mereka.


Comment