Angka 2.706 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jabodetabek bukan sekadar data di laporan tahunan. Itu artinya ada ribuan tubuh dan hati yang memar, ribuan suara yang tertahan di tenggorokan, dan ribuan cerita yang mungkin tidak pernah benar benar didengar. Sebagai Ponny, beauty influencer yang sehari hari membahas skincare, body care, dan self love di womenshealth.co.id, aku merasa angka ini menampar keras. Kita bisa menghabiskan jutaan rupiah untuk merawat kulit, tetapi bagaimana dengan merawat rasa aman dan harga diri perempuan dan anak di sekitar kita
> “Aku pernah berdiri di depan cermin dengan kulit yang kelihatan sehat, tapi di dalam hati rasanya remuk karena baru saja mendengar cerita sahabatku yang mengalami kekerasan. Waktu itu aku sadar, self care tidak akan pernah cukup kalau lingkungan kita masih penuh kekerasan.”
Di artikel ini, aku ingin mengajak kamu melihat lebih dekat apa yang sebenarnya terjadi di balik angka 2.706 kasus itu. Bukan untuk menakuti, tapi supaya kita peka. Karena sering kali, kekerasan terhadap perempuan dan anak terjadi sangat dekat dengan kita tanpa kita sadari.
—
Fakta Mencengangkan di Balik Angka Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
Sebelum melangkah ke cara melindungi diri, kita perlu berani menatap dulu realitas kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jabodetabek. Angka 2.706 kasus ini menggambarkan laporan yang tercatat, yang artinya kasus yang tidak tercatat kemungkinan jauh lebih banyak. Banyak perempuan dan anak memilih diam karena takut, malu, atau merasa tidak akan dipercaya.
Di kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya, kita sering membayangkan semua orang lebih “melek” informasi. Tapi nyatanya, kekerasan justru bisa bersembunyi di balik tembok rumah rapi, apartemen mewah, sampai gang gang sempit yang setiap hari kita lewati. Tidak ada satu pun wilayah yang benar benar bebas dari risiko ini.
Bentuk Bentuk Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak yang Sering Dianggap Biasa
Saat mendengar istilah kekerasan terhadap perempuan dan anak, banyak orang langsung membayangkan luka fisik. Padahal, bentuknya jauh lebih luas dan sering kali tersamarkan. Di Jabodetabek, laporan kasus biasanya mencakup beberapa jenis kekerasan berikut
1. Kekerasan fisik
Pukulan, tendangan, jambakan, dicekik, diseret, atau tindakan lain yang meninggalkan memar maupun tidak. Ini yang paling mudah terlihat, tapi bukan berarti paling sering dilaporkan. Banyak korban menutupi luka dengan pakaian atau makeup.
2. Kekerasan psikis atau emosional
Dihina, direndahkan, diteror, diancam, dibentak setiap hari, dikontrol secara berlebihan, sampai dimanipulasi secara mental. Luka jenis ini tidak tampak di kulit, tetapi bisa menghancurkan rasa percaya diri dan kesehatan mental.
3. Kekerasan seksual
Pelecehan, pemaksaan hubungan seksual, sentuhan tanpa izin, komentar seksual yang tidak diinginkan, eksploitasi seksual, sampai perkosaan. Ini bisa terjadi di rumah, sekolah, kantor, transportasi umum, bahkan di dunia digital.
4. Kekerasan ekonomi
Dilarang bekerja tanpa alasan yang sehat, tidak diberi nafkah, dikontrol ketat soal uang, penghasilan korban diambil paksa, atau diancam jika meminta hak finansialnya. Banyak perempuan yang akhirnya terjebak karena secara ekonomi dibuat tergantung.
5. Kekerasan digital
Penyebaran foto atau video pribadi tanpa izin, ancaman menyebarkan konten intim, cyberbullying, penguntitan online, atau pemaksaan mengirim foto tubuh. Ini sering menimpa remaja perempuan dan anak yang aktif di media sosial.
> “Aku pernah dapat DM dari follower yang bilang, ‘Kak, aku lebih takut buka HP daripada ketemu orang, karena mantan pacarku terus meneror di chat dan ancam sebar fotoku.’ Waktu baca itu, aku gemetar. Kita sering anggap HP sebagai alat hiburan, padahal buat sebagian orang, HP adalah sumber rasa takut.”
—
Mengapa Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Bisa Terjadi di Lingkungan Kita
Satu hal yang bikin merinding dari 2.706 kasus ini adalah kenyataan bahwa pelakunya sering kali bukan orang asing. Banyak yang terjadi di lingkup keluarga, pasangan, tetangga, teman, bahkan orang yang dipercaya untuk melindungi.
Di kota besar, orang sering terlihat sibuk, modern, dan “berpendidikan”. Tapi pola pikir lama dan relasi yang tidak sehat ternyata masih sangat kuat. Kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak muncul tiba tiba, melainkan tumbuh dari kebiasaan dan cara pandang yang dibiarkan terus menerus.
Normalisasi Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak dalam Kehidupan Sehari Hari
Salah satu alasan kekerasan terhadap perempuan dan anak terus berulang adalah karena banyak bentuk kekerasan yang dinormalisasi. Kita sering mendengar kalimat kalimat seperti ini
– “Namanya juga suami, wajar dong marah kalau istri bandel.”
– “Anak nakal memang harus dipukul biar kapok.”
– “Pacar cemburuan itu tandanya sayang.”
– “Kalau kamu diam saja waktu dilecehkan, berarti kamu setuju.”
Kalimat seperti ini membuat korban merasa bersalah atas kekerasan yang mereka alami. Akhirnya, banyak yang memilih diam dan bertahan, karena merasa apa yang mereka alami “masih wajar”.
> “Aku masih ingat, dulu ada temanku yang sering ditampar pacarnya. Dia cerita sambil ketawa, ‘Ya namanya juga dia sayang banget sama aku, jadi takut kehilangan.’ Butuh waktu lama sampai dia sadar bahwa itu bukan bentuk sayang, itu kekerasan.”
Ketimpangan Kuasa dan Ketergantungan yang Membungkam
Kekerasan terhadap perempuan dan anak juga lekat dengan soal kuasa dan ketergantungan. Perempuan bisa bergantung secara ekonomi pada pasangan, anak bergantung secara total pada orang dewasa, atau karyawan bergantung pada atasan. Ketika salah satu pihak memegang kendali penuh, kekerasan lebih mudah terjadi.
Contohnya
– Istri yang tidak punya penghasilan sendiri, diancam akan diusir jika melawan.
– Anak yang sejak kecil diajari untuk “jangan bantah orang tua”, bahkan ketika dipukul sampai lebam.
– Karyawan perempuan yang takut melapor pelecehan karena pelakunya atasan langsung.
Dalam situasi seperti ini, korban sering merasa tidak punya pilihan. Mereka bertahan demi anak, demi nama baik keluarga, atau sekadar demi bisa bertahan hidup secara finansial.
—
Tanda Tanda Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak yang Sering Terlewat
Dengan angka 2.706 kasus, sangat mungkin ada korban kekerasan terhadap perempuan dan anak di sekitar kamu saat ini. Bisa jadi tetangga, teman kantor, teman kuliah, bahkan anggota keluarga. Sayangnya, banyak tanda yang sering luput karena kita tidak terbiasa peka.
Kadang, orang yang paling sering upload foto senyum di media sosial justru menyimpan luka paling dalam. Di dunia beauty, kita tahu betapa mudahnya menutupi jerawat atau bekas luka dengan concealer. Tapi luka batin tidak bisa ditutupi dengan makeup apa pun.
Tanda Fisik dan Emosional pada Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
Beberapa tanda yang patut diwaspadai
1. Tanda fisik
– Memar yang sering muncul di area tubuh tertentu
– Luka yang dijelaskan dengan alasan berulang “jatuh”, “kecelakaan kecil”
– Sering memakai pakaian tertutup berlapis meski cuaca panas
– Terlihat lelah, kurang tidur, atau sering sakit kepala
2. Perubahan perilaku
– Mendadak menarik diri dari pergaulan
– Jarang membalas pesan atau sulit dihubungi tanpa alasan jelas
– Tampak mudah kaget, cemas, atau takut ketika mendengar suara keras
– Sering minta maaf berlebihan, bahkan untuk hal kecil
3. Tanda pada anak
– Tiba tiba tidak mau ke sekolah atau ke tempat tertentu
– Menjadi sangat pendiam atau sangat agresif
– Mengompol lagi padahal sudah lama berhenti
– Menggambar atau bermain dengan tema kekerasan atau seksual
> “Pernah ada follower yang bilang, ‘Kak, aku suka banget liat kakak ceria di video. Aku pengen juga sekuat itu.’ Terus waktu aku ajak ngobrol di DM, pelan pelan kebuka kalau dia lagi berjuang keluar dari hubungan yang penuh kekerasan. Dari situ aku belajar, jangan pernah menganggap senyum seseorang sebagai tanda hidupnya baik baik saja.”
—
Cara Melindungi Diri dan Orang Terdekat dari Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
Kita mungkin tidak bisa langsung menurunkan angka 2.706 kasus menjadi nol. Tapi kita bisa mulai dari lingkar kecil di sekitar kita dengan memperkuat diri, saling menguatkan, dan tidak lagi menormalisasi kekerasan terhadap perempuan dan anak. Perlindungan itu bukan hanya soal fisik, tapi juga mental, emosional, dan finansial.
Sebagai seseorang yang sering bicara soal self love, aku percaya bahwa mencintai diri sendiri juga berarti berani berkata “tidak” terhadap kekerasan dalam bentuk apa pun. Termasuk pada orang yang kita sayang.
Langkah Konkret Menghadapi Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
Beberapa hal yang bisa mulai kamu lakukan
1. Berani mengakui bahwa itu kekerasan
Jika kamu sering dipukul, dihina, dikontrol, dipaksa secara seksual, atau diteror secara digital, itu bukan “bumbu hubungan” atau “cara mendidik”. Itu kekerasan. Mengakui ini adalah langkah awal yang sangat penting.
2. Simpan bukti dan catat kejadian
– Foto luka fisik
– Simpan chat, email, voice note berisi ancaman atau penghinaan
– Catat tanggal, waktu, dan detail kejadian di catatan pribadi
Ini akan sangat membantu jika suatu saat kamu memutuskan melapor.
3. Cerita ke orang yang aman
Pilih teman, keluarga, atau figur yang kamu percaya tidak akan menghakimi. Sampaikan dengan jelas bahwa kamu butuh didengar dan butuh dukungan, bukan sekadar dinasihati.
4. Kenali layanan bantuan
Di Jabodetabek sudah ada berbagai lembaga yang memberi pendampingan hukum, psikologis, dan shelter sementara untuk korban kekerasan. Kamu bisa mencari informasi lewat website resmi lembaga perlindungan perempuan dan anak, layanan pemerintah daerah, atau organisasi masyarakat sipil.
5. Pikirkan rencana keselamatan
– Siapkan tas kecil berisi dokumen penting dan pakaian seperlunya
– Simpan nomor darurat di kontak HP dengan nama yang tidak mencolok
– Tentukan orang yang bisa kamu datangi jika harus keluar rumah mendadak
> “Aku pernah bilang ke diriku sendiri di depan cermin, ‘Kalau kamu bisa tegas soal ingredients skincare yang masuk ke kulitmu, kamu juga harus tegas soal orang yang boleh masuk ke hidupmu.’ Batasan itu bukan egois, itu bentuk perlindungan diri.”
—
Peran Kita Semua dalam Mengurangi Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
Angka 2.706 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jabodetabek mengingatkan kita bahwa ini bukan hanya urusan korban dan pelaku. Ini urusan kita semua. Sebagai teman, tetangga, keluarga, pasangan, bahkan sebagai orang asing yang kebetulan menyaksikan kejadian di jalan atau di transportasi umum.
Di dunia beauty, kita sering mengulang kata kata “support each other”, “women support women”, “empowerment”. Semua itu akan terasa hampa kalau kita diam ketika melihat atau mendengar kekerasan di sekitar kita.
Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan untuk Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
Kalau kamu menduga seseorang mengalami kekerasan terhadap perempuan dan anak, kamu bisa
1. Menjadi telinga yang tidak menghakimi
Dengarkan dulu tanpa langsung menyalahkan atau memberi label. Kalimat seperti “Kenapa kamu ga pergi aja” bisa terasa menyakitkan bagi korban yang sedang kebingungan.
2. Validasi perasaan mereka
– “Apa yang kamu alami itu tidak wajar dan tidak pantas kamu terima.”
– “Kamu tidak salah. Yang salah adalah pelakunya.”
– “Kamu berhak hidup dengan aman dan dihargai.”
3. Tawarkan bantuan konkret
– Menemani ke layanan konseling atau lembaga bantuan
– Menyimpan dokumen penting jika korban merasa tidak aman di rumah
– Menjadi kontak darurat yang bisa dihubungi kapan saja
4. Tidak menyebarkan cerita tanpa izin
Privasi korban sangat penting. Jangan jadikan cerita mereka sebagai bahan gosip, meski niatmu sekadar “curhat ke teman”.
> “Sebagai Ponny, aku selalu bilang ke audience ku, self love bukan cuma soal masker wajah dan serum mahal. Self love juga berarti kamu tidak menoleransi kekerasan, baik yang kamu alami sendiri maupun yang terjadi di sekitar. Kita mungkin tidak bisa menyelamatkan semua orang, tapi kita bisa mulai dengan jadi satu orang yang aman untuk didatangi ketika seseorang butuh bantuan.”
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan kita. Ia bisa bersembunyi di balik dinding rumah sebelah, di balik senyum teman kantor, atau bahkan di dalam keluarga sendiri. Angka 2.706 kasus di Jabodetabek adalah alarm keras bahwa sudah saatnya kita lebih peka, lebih berani bersuara, dan lebih tegas melindungi diri serta orang orang yang kita sayangi.


Comment