Perjuangan Perempuan Wadas bukan cuma soal menolak penambangan batu andesit, tapi juga soal mempertahankan rumah, tubuh, dan masa depan anak anak mereka. Di sebuah desa kecil yang hijau di Purworejo, Jawa Tengah, sekelompok perempuan berdiri di baris paling depan, menghadang rencana tambang yang mengancam sawah, kebun, dan sumber air yang selama ini jadi nyawa kehidupan warga. Sebagai Ponny, beauty influencer yang sehari hari ngomongin skincare, wellness, dan self love, aku merasa kisah mereka ini bukan cuma isu lingkungan, tapi juga soal bagaimana perempuan menjaga “kulit” bumi seperti mereka menjaga kulitnya sendiri.
> “Waktu pertama kali dengar cerita Perempuan Wadas, aku langsung merasa: ini bukan cuma cerita mereka, ini juga tentang kita semua yang menikmati udara bersih, makanan dari tanah subur, dan air yang jernih. Mereka berjuang di garis depan, kita jangan cuma jadi penonton.” – Ponny
Di balik wajah wajah lelah dan tangan yang kapalan karena bekerja di ladang, ada keberanian yang tidak bisa dihapus begitu saja. Dan di artikel ini, aku ingin mengajak kamu melihat lebih dekat bagaimana Perjuangan Perempuan Wadas ini tumbuh, menguat, dan mengubah cara kita memandang peran perempuan dalam menjaga alam.
—
Perjuangan Perempuan Wadas: Dari Dapur Sampai Garis Depan Aksi
Sebelum bicara lebih jauh, kita perlu paham dulu bahwa Perjuangan Perempuan Wadas bukan sesuatu yang muncul tiba tiba. Ia tumbuh dari kekhawatiran, dari rasa sayang yang sangat dalam pada tanah tempat mereka lahir dan membesarkan anak. Perempuan di Wadas bukan hanya “pendukung” di belakang laki laki, mereka ikut rapat, ikut menyusun strategi, ikut menghadang alat berat, bahkan ikut berhadapan dengan aparat.
Perjuangan Perempuan Wadas yang Dimulai dari Rumah
Di banyak desa, perempuan sering dianggap hanya mengurus dapur, anak, dan rumah. Tapi di Wadas, dapur justru jadi salah satu pusat perlawanan. Dari sanalah makanan untuk massa aksi disiapkan, logistik diatur, dan semangat dibagi.
Perjuangan Perempuan Wadas terlihat dari hal hal “kecil” yang ternyata sangat menentukan. Mereka memastikan semua orang yang ikut aksi tidak kelaparan, mereka menyiapkan air minum, obat obatan tradisional, sampai tempat istirahat. Di tengah ketegangan, senyum dan candaan mereka di dapur bisa mengurangi rasa takut banyak orang.
> “Aku pernah ikut liputan di desa lain yang juga sedang menolak tambang, dan yang paling bikin aku merinding adalah momen di dapur umum. Perempuan perempuan itu masak sambil bercerita tentang rasa takut mereka, tapi tangan mereka tidak pernah berhenti mengaduk sayur di kuali besar. Di situlah aku melihat, keberanian itu kadang bentuknya sesederhana terus bergerak meskipun hati gemetar.” – Ponny
Perempuan Wadas juga aktif mengingatkan suami dan anak anak mereka untuk tetap kompak, tidak mudah dipecah belah, dan tidak tergoda janji janji manis. Dari rumah, mereka menjaga agar suara warga tetap satu.
Dari Ruang Tamu ke Ruang Rapat Warga
Tidak berhenti di dapur, Perjuangan Perempuan Wadas juga terlihat di ruang ruang rapat warga. Mereka hadir, bertanya, menyampaikan keberatan, dan mengingatkan bahwa dampak penambangan tidak akan berhenti di generasi mereka saja.
Banyak perempuan Wadas yang awalnya tidak terbiasa bicara di depan umum, pelan pelan berani angkat suara. Mereka bicara soal air yang mungkin akan hilang, soal sawah yang mungkin tidak lagi bisa ditanami, soal anak cucu yang mungkin tidak lagi punya tanah untuk digarap.
Pelan tetapi pasti, suara perempuan yang dulu sering dianggap “pelengkap” mulai didengar sebagai suara utama.
—
Kenapa Tubuh, Tanah, dan Air Jadi Inti Perjuangan Perempuan Wadas
Perjuangan Perempuan Wadas tidak bisa dilepaskan dari hubungan sangat dekat antara tubuh perempuan, tanah, dan air. Tiga hal ini saling terkait dan saling memengaruhi. Kalau salah satunya rusak, yang lain ikut terguncang.
Perjuangan Perempuan Wadas Menjaga Tanah Sebagai Sumber Kehidupan
Tanah di Wadas bukan hanya aset ekonomi, tapi juga identitas. Di atas tanah itulah mereka menanam padi, cabai, singkong, dan buah buahan. Dari situ mereka membiayai sekolah anak, membeli kebutuhan harian, sampai mengadakan hajatan keluarga.
Perjuangan Perempuan Wadas menjaga tanah berarti menjaga kemandirian. Kalau tanah berubah jadi area tambang, mereka tidak hanya kehilangan sumber penghasilan, tapi juga kehilangan rasa percaya diri sebagai petani yang selama ini bisa berdiri di atas kaki sendiri.
Tanah yang diolah turun temurun juga menyimpan banyak kenangan. Kuburan leluhur, pohon yang ditanam sejak kecil, jalan setapak ke sungai tempat mereka mandi dan mencuci, semua itu bagian dari kehidupan yang tidak bisa diganti dengan uang ganti rugi.
> “Sebagai orang kota yang sering menganggap tanah cuma sebagai ‘lahan’ buat bangunan, aku belajar banyak dari cerita Wadas. Buat mereka, tanah itu seperti kulit sendiri. Kalau digali dan dilukai, sembuhnya tidak mudah, dan bekasnya akan selalu ada.” – Ponny
Air Bersih dan Perjuangan Perempuan Wadas Menjaga Sumbernya
Di banyak desa, perempuan yang paling sering berurusan dengan air. Mereka yang mencuci, memasak, menyiram tanaman, memandikan anak. Jadi ketika ada ancaman terhadap sumber air, perempuanlah yang pertama kali merasakan cemas.
Perjuangan Perempuan Wadas juga tentang melindungi mata air yang mengalir ke sawah dan rumah rumah warga. Penambangan batu andesit berpotensi mengubah aliran air, mengurangi debit, bahkan mengeringkan beberapa sumber. Kalau air berkurang, yang paling repot adalah perempuan, karena mereka yang harus mencari cara baru untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Air bukan cuma soal minum. Ia juga soal kesehatan kulit, kebersihan tubuh, dan kebersihan rumah. Buatku, yang sering bicara soal pentingnya hidrasi dan kebersihan kulit, rasanya ironis kalau kita sibuk beli skincare mahal tapi lupa bahwa di daerah lain, perempuan sedang berjuang supaya air di desa mereka tetap mengalir.
—
Perjuangan Perempuan Wadas dan Keberanian Menghadapi Aparat
Ketika penolakan warga terhadap rencana tambang menguat, tekanan dari luar juga ikut meningkat. Di sinilah Perjuangan Perempuan Wadas diuji lebih berat. Mereka tidak hanya berhadapan dengan dokumen dan janji pejabat, tapi juga dengan aparat berseragam yang datang ke desa.
Barisan Tubuh Perempuan di Depan Alat Berat
Salah satu momen paling kuat dari Perjuangan Perempuan Wadas adalah ketika mereka berdiri di depan alat berat dan aparat. Dengan tubuh yang mungkin tidak sekuat laki laki, mereka membentuk barisan, memegang tangan satu sama lain, dan menolak bergeser.
Ada yang sambil menggendong anak, ada yang sudah sepuh, ada yang baru remaja. Mereka tahu ada risiko ditarik, didorong, bahkan ditangkap. Tapi mereka tetap memilih berdiri.
> “Aku kebayang kalau aku ada di posisi mereka: aku yang biasanya takut lihat kerumunan saja sudah deg degan, apalagi berdiri di depan aparat. Tapi perempuan perempuan Wadas itu menunjukkan, rasa takut bisa jalan bareng dengan keberanian. Kamu bisa gemetar, tapi tetap berdiri.” – Ponny
Keberanian ini bukan muncul tiba tiba. Ia tumbuh dari rasa sayang yang besar pada desa mereka, dan dari keyakinan bahwa kalau mereka diam, tidak ada lagi yang bisa diandalkan.
Perjuangan Perempuan Wadas Menghadapi Intimidasi dan Stigma
Selain tekanan fisik, Perjuangan Perempuan Wadas juga berhadapan dengan tekanan mental. Ada yang diintimidasi, ada yang dituduh mudah terprovokasi, ada yang dicap melawan pembangunan. Bahkan tidak jarang, mereka dipecah belah lewat gosip dan fitnah.
Perempuan Wadas harus menghadapi komentar komentar menyakitkan, baik dari luar maupun dari orang orang yang mulai goyah di dalam desa. Ada yang dibilang keras kepala, tidak tahu diri, sampai dianggap menghambat rezeki.
Tekanan seperti ini bisa membuat mental runtuh. Tapi banyak perempuan Wadas memilih tetap bertahan, saling menguatkan, dan mencari dukungan dari jaringan perempuan di luar desa. Mereka belajar bahwa berjuang tidak berarti harus kuat sendirian.
—
Perjuangan Perempuan Wadas dan Solidaritas dari Kota ke Desa
Perjuangan Perempuan Wadas akhirnya terdengar sampai kota kota besar. Mahasiswa, aktivis, jurnalis, sampai komunitas perempuan mulai mengangkat cerita mereka. Di sinilah jembatan antara desa dan kota mulai terbentuk.
Perjuangan Perempuan Wadas Menginspirasi Komunitas Perempuan Lain
Cerita tentang Perjuangan Perempuan Wadas membuat banyak perempuan di kota mulai bertanya: apa yang bisa kita lakukan? Ada yang menggelar diskusi, penggalangan dana, sampai kampanye di media sosial.
Sebagai beauty influencer, aku merasa punya tanggung jawab juga. Platform yang biasa kupakai buat ngomongin serum dan sunscreen, sesekali harus dipakai juga untuk mengangkat kisah seperti ini. Karena kecantikan yang aku percaya bukan cuma soal wajah glowing, tapi juga soal keberanian dan kepedulian.
> “Aku pernah bikin konten singkat tentang Perjuangan Perempuan Wadas di Instagram Story. Ternyata banyak yang DM, bilang baru tahu dan pengin baca lebih jauh. Di situ aku sadar, kadang yang kita perlu lakukan adalah membuka pintu pertama supaya orang lain mau ikut melihat.” – Ponny
Perempuan di kota mungkin tidak mengalami langsung ancaman tambang, tapi mereka bisa ikut menyebarkan informasi, mendukung secara moral, dan menolak lupa bahwa ada desa desa yang sedang berjuang mempertahankan ruang hidup.
Perjuangan Perempuan Wadas Mengajarkan Cara Baru Melihat Self Care
Selama ini, self care sering diartikan sebagai me time, skincare routine, olahraga, dan makan sehat. Semua itu penting, dan aku tetap mendukung. Tapi Perjuangan Perempuan Wadas mengajarkan satu hal lain: self care juga bisa berarti menjaga lingkungan tempat kita hidup.
Perempuan Wadas merawat diri dengan cara merawat desa mereka. Mereka tahu, kalau tanah rusak dan air hilang, tubuh mereka juga yang akan paling dulu merasakan sakitnya. Jadi ketika mereka berdiri menolak tambang, itu juga bentuk self love yang sangat dalam.
Di kota, kita bisa mulai melihat self care dengan cara yang lebih luas. Misalnya, lebih sadar memilih produk yang ramah lingkungan, mengurangi sampah, mendukung kebijakan yang melindungi alam, dan tidak menutup mata pada perjuangan perempuan di desa desa seperti Wadas.
> “Buatku, perempuan yang berani membela ruang hidupnya adalah definisi kecantikan yang paling utuh. Wajah mereka mungkin tidak selalu tersentuh highlighter dan lip tint, tapi mata mereka punya kilau yang datang dari keberanian.” – Ponny
—
Perjuangan Perempuan Wadas Sebagai Cermin Keberanian Perempuan Indonesia
Kalau kita melihat lebih dalam, Perjuangan Perempuan Wadas adalah cermin dari kekuatan perempuan Indonesia di banyak tempat. Dari Sabang sampai Merauke, ada begitu banyak perempuan yang sedang menjaga hutan, pesisir, sawah, dan sungai dari berbagai ancaman.
Perempuan Wadas mengingatkan kita bahwa perempuan bukan hanya korban, tapi juga penjaga dan penggerak. Mereka mengurus keluarga, mengelola lahan, mengatur komunitas, sekaligus berhadapan dengan kebijakan yang sering tidak memihak.
Sebagai Ponny, aku merasa cerita seperti ini harus lebih sering muncul di media, di timeline, di obrolan sehari hari. Bukan untuk menjual kesedihan, tapi untuk mengangkat keberanian. Karena di balik setiap piring nasi yang kita makan, ada tanah yang dijaga. Dan di banyak tempat, penjaganya adalah perempuan perempuan seperti mereka.


Comment