perempuan dalam media massa
Home / Berita Kecantikan / Perempuan dalam Media Massa Bongkar Sisi Seksis dan Misoginis

Perempuan dalam Media Massa Bongkar Sisi Seksis dan Misoginis

Perempuan dalam media massa selalu jadi topik yang bikin aku geregetan sekaligus penasaran. Di satu sisi, kita sering dipuja dan dijadikan wajah utama kampanye, iklan, sampai konten viral. Tapi di sisi lain, tubuh dan hidup kita terus menerus diatur, dinilai, dan dikomentari seolah-olah perempuan cuma pantas tampil kalau memenuhi standar tertentu. Sebagai Ponny, beauty influencer yang tiap hari berkutat dengan kamera, caption, dan komentar netizen, aku melihat sendiri bagaimana media bisa mengangkat perempuan setinggi langit, lalu menjatuhkan dengan cara yang sangat seksis dan misoginis.

Cara Halus Media Membingkai Perempuan dalam Media Massa

Sebelum ngomongin hal yang kelihatan jelas, kita perlu peka dulu sama cara halus media membingkai perempuan dalam media massa. Karena sering kali bukan cuma soal kata-kata kasar, tapi bagaimana sudut pandang, angle foto, sampai pilihan headline pelan-pelan membentuk cara orang melihat perempuan.

Di layar TV, portal berita, sampai konten viral, perempuan sering diletakkan di posisi yang sama: objek visual. Kamera bergerak dari ujung rambut sampai ujung kaki, fokus ke tubuh dulu baru ke prestasi. Perempuan yang dianggap cantik dapat lebih banyak sorotan, sementara yang tidak sesuai standar kecantikan arus utama cenderung diabaikan, atau malah dijadikan bahan olok-olok.

> “Pertama kali aku muncul di media nasional, yang dibahas bukan isi workshop skincare-ku, tapi ‘kulit Ponny glowing banget, pasti mahal perawatannya’. Saat itu aku sadar, buat sebagian media, tubuh perempuan lebih penting daripada isi kepalanya.”

Representasi Perempuan dalam Media Massa yang Masih Sempit

Representasi perempuan dalam media massa masih sempit dan repetitif. Ada beberapa pola yang terus muncul:

Rahasia Makeup BLACKPINK, Gaya Rias Artis Korea yang Selalu Jadi Tren

1. Perempuan sebagai pemanis visual
Di banyak acara TV, terutama hiburan, perempuan ditempatkan sebagai pengisi latar yang cantik, host pendamping, atau “SPG” konsep yang tugasnya tersenyum dan terlihat menarik. Jarang diberi peran pengambil keputusan atau suara utama.

2. Perempuan sebagai korban
Dalam berita kriminal atau kekerasan, perempuan sering ditampilkan hanya sebagai korban tanpa agensi. Nama disamarkan, tapi detail yang tidak perlu seperti pakaian, jam keluar rumah, atau status hubungan justru ditekankan. Seolah-olah ada pesan tersirat: “Lihat, dia juga salah.”

3. Perempuan sebagai penggoda
Banyak konten hiburan, sinetron, sampai film masih menggambarkan perempuan sebagai penggoda, perebut pasangan orang, atau sumber masalah rumah tangga. Stereotip ini menegaskan bahwa perempuan adalah ancaman bagi stabilitas, bukan individu dengan pilihan hidup.

4. Perempuan sebagai penjaga moral keluarga
Ibu yang baik digambarkan selalu sabar, lemah lembut, berkorban tanpa batas. Kalau ada perempuan yang berani bilang lelah atau memilih karier, sering dikritik lewat karakter “ibu karier yang dingin” di sinetron dan film.

Pola-pola ini terlihat sepele, tapi kalau diulang bertahun-tahun, orang akan menganggapnya sebagai hal wajar.

Muka Bopeng Bisa Disamarkan, Kenali Perawatan yang Tepat dan Aman

Seksisme Kasat Mata dalam Pemberitaan Perempuan dalam Media Massa

Seksisme di media itu bukan cuma candaan ringan atau komentar selintas. Ia muncul lewat pilihan kata, gambar, dan cara mengemas informasi. Perempuan dalam media massa jarang dibiarkan hadir sebagai manusia utuh; selalu ada catatan kaki tentang tubuh, status, atau penampilan.

Di berita olahraga misalnya, prestasi atlet perempuan sering disandingkan dengan penampilan fisik. “Atlet voli cantik”, “Wasit seksi”, “Pelari berhijab yang anggun” dan seterusnya. Padahal atlet laki-laki jarang sekali disebut “ganteng” di headline kecuali di media gosip.

> “Waktu aku diwawancara soal sunscreen, pertanyaan yang muncul malah, ‘Ponny, gimana caranya tetap cantik supaya pasangan betah?’ Rasanya lucu tapi pahit. Kenapa skincare selalu dikaitkan dengan validasi laki-laki, bukan kesehatan kulit kita sendiri.”

Judul Klikbait dan Tubuh Perempuan dalam Media Massa

Judul klikbait adalah senjata utama banyak media, dan tubuh perempuan sering jadi umpan. Ada pola yang berulang:

– Headline yang menonjolkan bagian tubuh: “Paha mulus presenter X curi perhatian”
– Kalimat menggoda: “Bikin gagal fokus”, “Bikin mata tak berkedip”, “Bikin salah fokus”
– Penggunaan kata “sempurna”, “ideal”, “idaman”, yang seolah bikin standar baru yang harus dikejar perempuan lain

Parfum dan Body Mist Cara Pakai Bareng Biar Wangi Awet

Perempuan yang sedang berprestasi pun tidak luput. Saat seorang ilmuwan perempuan meraih penghargaan, fotonya yang diambil justru yang paling “cantik” menurut standar umum, bukan yang menunjukkan ia sedang bekerja di lab. Fokus berita pun bercampur antara prestasi dan penampilan.

Di sisi lain, perempuan yang tubuhnya tidak sesuai standar sering jadi bahan “konten kritik halus”:
“Netizen kaget lihat tubuh terbaru artis X, makin berisi” atau “Artis Y tampil dengan pipi chubby, warganet pangling”. Komentar-komentar ini memelihara budaya body shaming yang mengakar.

Misogini Terselubung di Balik Senyum Manis Media

Misogini bukan cuma kebencian terang-terangan terhadap perempuan. Ia juga bisa muncul dalam bentuk candaan, framing, dan angle yang selalu menempatkan perempuan sebagai pihak yang salah, berlebihan, atau harus dikontrol. Misogini di media sering dibungkus dengan humor, rating, dan dalih “ini cuma hiburan kok”.

Acara talkshow, podcast, sampai konten reaksi sering mengundang perempuan lalu mengajukan pertanyaan yang mengobjektifikasi. Topik yang diangkat seputar tubuh, gaya pacaran, atau standar pasangan ideal, bukan tentang karya, bisnis, atau gagasan mereka.

> “Pernah di satu acara, aku diminta share soal perjalanan karier. Tapi host-nya malah nyeletuk, ‘Tapi kalau kamu nggak glowing gini, kira-kira bakal se-laris sekarang nggak?’ Aku cuma senyum, tapi dalam hati, aku tahu ini contoh kecil misogini yang dinormalisasi.”

Perempuan dalam Media Massa sebagai Target Penghakiman Moral

Perempuan dalam media massa selalu diawasi moralnya. Cara berpakaian, cara tertawa, siapa yang digandeng, jam pulang malam, semua jadi bahan berita. Sementara laki-laki yang melakukan hal serupa sering dianggap “nakal tapi menarik”.

Beberapa pola penghakiman moral yang sering muncul:

1. Victim blaming dalam kasus kekerasan
Pertanyaan seperti “Kenapa dia ke tempat itu?”, “Kenapa pakai baju begitu?” masih sering muncul di berita. Fokusnya bergeser dari pelaku ke perilaku korban.

2. Menghukum perempuan yang vokal
Perempuan yang berani bicara soal tubuh, seksualitas, atau haknya sering diberi label “kontroversial”, “vulgar”, “tidak pantas dijadikan panutan”. Sementara laki-laki yang membahas hal sama sering dianggap jujur dan berani.

3. Standar ganda soal usia dan status
Perempuan di atas 30 tahun yang belum menikah sering dijadikan bahan konten dengan judul bernada iba atau sindir. “Belum laku”, “Masih betah sendiri”, “Menolak menikah”. Padahal banyak laki-laki di usia yang sama sama sekali tidak dipermasalahkan status lajangnya.

Misogini seperti ini membuat perempuan ragu tampil apa adanya, karena takut diserang dari berbagai sisi.

Industri Kecantikan, Iklan, dan Perempuan dalam Media Massa

Sebagai seseorang yang hidup di dunia beauty, aku tidak bisa memungkiri bahwa industri kecantikan punya hubungan sangat erat dengan cara media memotret perempuan dalam media massa. Di satu sisi, produk beauty bisa jadi alat self care dan ekspresi diri. Di sisi lain, iklan-iklan sering memperkuat standar yang tidak realistis.

Banyak iklan memposisikan perempuan sebagai “belum cukup”
Belum cukup putih, belum cukup langsing, belum cukup mulus. Solusinya selalu: beli produk ini, ikuti treatment itu. Dan sering kali, narasi di iklan mengaitkan kecantikan dengan penerimaan sosial, terutama dari laki-laki.

> “Aku pernah menolak satu kontrak besar karena skrip iklannya menggambarkan perempuan yang baru dianggap ‘pantas’ dilamar setelah kulitnya jadi lebih putih. Buatku, uang sebesar apa pun tidak sebanding dengan rasa bersalah kalau aku ikut menyebarkan pesan seperti itu.”

Standar Kecantikan dan Tekanan di Balik Layar

Di balik layar pemotretan dan syuting, tekanan pada perempuan jauh lebih besar. Ada standar:

– Kulit harus mulus tanpa pori
– Rambut harus selalu rapi
– Berat badan harus stabil
– Tidak boleh terlihat lelah

Perempuan yang bekerja di depan kamera sering mendapat komentar personal yang tidak profesional. “Kamu kelihatan gemukan ya”, “Kamu lagi jerawatan kenapa?”, “Kamu kelihatan tua di kamera ini”. Komentar seperti ini jarang ditujukan ke rekan laki-laki dengan intensitas yang sama.

Perempuan yang menolak mengikuti standar ini kadang dianggap “tidak niat” atau “tidak menjaga diri”. Padahal, tubuh manusia wajar berubah.

Perempuan dalam Media Massa yang Melawan Arus Seksisme

Meski banyak sisi gelap, ada juga gerakan perlawanan yang mulai mengubah wajah perempuan dalam media massa. Semakin banyak perempuan yang memegang posisi penting di redaksi, produksi, dan kreatif, sehingga sudut pandang mulai bergeser.

Kita mulai melihat:

– Berita yang menyebut nama pelaku kekerasan, bukan hanya korban
– Konten yang membahas prestasi perempuan tanpa mengomentari penampilan
– Podcast dan video yang memberi ruang perempuan untuk bicara tentang gagasan, bukan hanya gosip hubungan

> “Salah satu momen yang bikin aku terharu adalah ketika tim editorial mengizinkan aku tampil bare face di satu pemotretan. Mereka bilang, ‘Kita mau tunjukin kulit nyata, dengan pori dan bekas jerawat.’ Rasanya seperti napas lega, karena akhirnya aku tidak harus selalu tampil sempurna.”

Ruang Aman Digital untuk Perempuan dalam Media Massa

Media sosial, meski punya sisi toksik, juga membuka ruang aman baru. Perempuan bisa membangun komunitas, mengkurasi media yang mereka konsumsi, dan mendukung satu sama lain. Banyak akun yang secara sadar membahas bagaimana perempuan dalam media massa dibingkai, membedah seksisme, dan mengajak audiens berpikir kritis.

Beberapa hal yang mulai terlihat:

– Influencer yang menolak edit berlebihan pada foto
– Konten yang membahas menstruasi, kesehatan mental, dan tubuh tanpa malu
– Kampanye yang mengangkat keberagaman bentuk tubuh, warna kulit, dan gaya hidup

Ini bukan perubahan instan, tapi setiap langkah kecil berarti.

Belajar Menjadi Penonton yang Kritis terhadap Perempuan dalam Media Massa

Perubahan tidak hanya datang dari industri, tapi juga dari kita sebagai penonton. Cara kita mengonsumsi perempuan dalam media massa akan memengaruhi apa yang dianggap laku oleh media dan brand. Kalau kita terus klik judul yang mengobjektifikasi, algoritma akan menganggap itu yang kita mau.

Hal yang bisa mulai dilakukan:

– Sadar ketika sebuah berita terlalu menonjolkan tubuh, bukan isi
– Tidak ikut menyebarkan konten yang menghina penampilan perempuan
– Mendukung media dan kreator yang menghargai perempuan sebagai individu utuh
– Berani mengkritik dengan sopan ketika ada konten yang jelas seksis atau misoginis

> “Sekarang, setiap kali aku mau upload konten, aku selalu tanya ke diri sendiri, ‘Konten ini bikin perempuan lain merasa cukup, atau malah merasa kurang?’ Itu jadi kompas kecilku di tengah dunia media yang bising.”

Perempuan dalam media massa seharusnya tidak lagi sekadar latar, pemanis, atau objek komentar. Kita punya suara, cerita, dan otoritas atas tubuh sendiri. Dan semakin sering kita berani menantang cara lama media memotret perempuan, semakin besar ruang yang terbuka untuk generasi setelah kita.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nagabet76slot gacorslot online1213141516Slot Online Menghadirkan Pengalaman Digital Yang Didukung Pemrosesan Data Secara Real TimeMahjongways Menganalisis Pola Visual Dan Dinamika Simbol Berdasarkan Pemrosesan Data DigitalMahjongways Mengembangkan Dinamika Permainan Melalui Pengelolaan Data Dan Elemen Visual TerintegrasiAnalisis Komputasi Modern Membantu Memetakan Dinamika Sistem Digital Berdasarkan Data ObservasiMember Baru Mendorong Dinamika Komunitas Digital Menuju Pengalaman Yang Lebih Aktif Dan Menarikslot onlinemahjongwayasarsitektur layananpemrosesan data adaptifmember baruSlot Online Terbaru Menghadirkan AnalisisScatter Hitam Dianalisis Melalui PemetaanPola Scatter Hitam Membentuk Distribusi Visual Yang Dapat Dikaji Menggunakan Komputasi AdaptifArsitektur Teknologi TerdistribusiTeknologi Visualisasi Data18111812181318141815181618171818181918201821182218231824182518261827182818291830174601746117462174631746417465174661746717468174692119621197211982119921200212012120221203212042120510248102491025010251102521025310254102551025610257kebiasaan online bergeser media digital berubahsaat kebiasaan online bergeser media digital berubahpergeseran kebiasaan online membawa format media barumedia digital menemukan format baru onlineformat baru muncul saat kebiasaan online berubahkebiasaan digital bergeser format media mulai berubahperubahan kebiasaan online mengubah format media digitalmedia digital beradaptasi saat kebiasaan online bergeserketika kebiasaan online berubah media mencari format barupergeseran online mendorong media digital menciptakan format barugame digital kembali mencuri perhatian saat perubahan tren mulai terlihat jelastren game digital mulai ramai dibicarakan dalam perbincangan pengguna masa kinigame digital muncul dengan arah baru seiring berubahnya kebiasaan penggunafenomena game digital makin menarik perhatian dan membuka perspektif yang berbedaperjalanan game digital memasuki babak baru di tengah perubahan platform moderngame digital menjadi sorotan ketika gaya interaksi pengguna mulai bergeserperkembangan game digital menghadirkan cerita baru yang jarang terlihat sebelumnyasaat game digital kembali diperbincangkan perubahan perilaku pengguna ikut terlihatgame digital mulai mendapat perhatian seiring munculnya gaya bermain yang beragamperubahan era membawa game digital ke ruang perbincangan dengan sudut pandang barugame online kembali menarik perhatian saat kebiasaan pengguna mulai berubahtren game online mulai berkembang seiring munculnya gaya interaksi barugame online menjadi perbincangan ketika platform digital menghadirkan pengalaman berbedafenomena game online makin terlihat di tengah perubahan budaya digitalperjalanan game online memasuki babak baru bersama perkembangan teknologigame online kembali diperhatikan setelah munculnya tren pengguna yang beragamperubahan platform membawa game online ke arah yang semakin menarikgame online mulai mendapat sorotan dari pergeseran kebiasaan di dunia digitalcerita game online berkembang saat pola interaksi pengguna ikut bergeserarah baru game online terlihat dari perubahan pengalaman pengguna masa kini