Mungkin kamu sudah sering dengar istilah mansplaining, tapi belum benar benar paham seperti apa rasanya di kehidupan nyata dan bagaimana mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan bisa menggerus rasa percaya diri pelan pelan. Sebagai perempuan yang sering tampil di depan publik, ketemu banyak orang, dan kerja di dunia yang masih didominasi laki laki, aku pribadi sudah berkali kali mengalaminya, baik secara halus maupun terang terangan.
Apa Itu Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan di Kehidupan Sehari hari
Sebelum jauh membahas mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan, penting banget untuk meluruskan dulu arti istilah ini supaya kita bisa mengenalinya dengan jelas. Mansplaining berasal dari kata man dan explaining, yaitu ketika laki laki menjelaskan sesuatu kepada perempuan dengan nada merendahkan, seolah olah perempuan tidak paham, padahal seringkali perempuan justru lebih paham atau punya pengalaman langsung soal hal itu.
Mansplaining bukan sekadar laki laki menjelaskan sesuatu. Bukan juga setiap kali laki laki berbicara ke perempuan. Yang bikin mansplaining mengganggu adalah kombinasi sikap meremehkan, nada menggurui, dan asumsi bahwa perempuan kurang tahu hanya karena dia perempuan.
> “Momen paling bikin aku terdiam adalah ketika seorang pria menjelaskan ke aku tentang skincare basic, sambil bilang ‘kamu mungkin belum tahu soal ini’, padahal aku sudah 10 tahun kerja di industri kecantikan.” – Ponny
Kondisi seperti ini bisa terjadi di mana saja
– Di kantor, saat meeting
– Di kampus, saat diskusi kelompok
– Di rumah, saat ngobrol dengan pasangan atau keluarga
– Di media sosial, lewat komentar yang menggurui
Yang sering tidak disadari, mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan bukan cuma bikin kita kesal sesaat, tapi bisa mengikis rasa percaya diri, membuat kita ragu dengan kemampuan diri, bahkan membuat suara perempuan makin jarang terdengar di ruang publik.
Ciri Ciri Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan di Berbagai Situasi
Sebelum bisa mengatasi mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan, kita perlu bisa mengenali polanya. Karena bentuknya sering halus, kadang kita baru sadar setelah kejadian lewat.
Tanda Tanda Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan di Tempat Kerja
Di dunia kerja, mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan sering muncul dalam bentuk yang kelihatannya “biasa saja”, tapi sebenarnya mengganggu.
Beberapa ciri yang sering muncul
1. Penjelasan berlebihan tentang hal yang sudah kamu kuasai
Misalnya kamu adalah marketing manager, tapi rekan laki laki menjelaskan hal paling dasar tentang strategi kampanye, seolah kamu baru magang kemarin.
2. Nada menggurui dan meremehkan
Kalimat seperti “ini sebenarnya simpel banget”, “kamu mungkin belum sampai ke sini”, atau “aku jelasin pelan pelan ya biar kamu paham” dengan nada merendahkan.
3. Mengambil alih penjelasanmu
Kamu sedang menjelaskan ide atau presentasi, lalu tiba tiba rekan laki laki memotong, mengulang dengan versinya, dan semua orang mendengarkan dia, bukan kamu.
4. Mengabaikan pengalaman dan pencapaianmu
Walaupun kamu sudah lama di bidang itu, masukanmu dianggap “pendapat”, sementara penjelasan dia dianggap “fakta”.
> “Di satu meeting, aku pernah presentasi soal tren skincare. Seorang kolega laki laki memotong dan menjelaskan ulang seakan dia yang paling tahu, padahal datanya dari riset yang aku buat. Rasanya kayak dihapus dari ruangan.” – Ponny
Dari situ kita mulai bisa melihat bagaimana mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan di kantor bukan cuma soal ego, tapi juga soal kesempatan bicara, pengakuan kerja, dan peluang karier.
Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan di Dunia Digital
Di media sosial, mansplaining punya panggung yang jauh lebih besar. Komentar komentar menggurui sering muncul di kolom komentar atau DM.
Contoh yang sering terjadi
– Kamu posting review produk kecantikan, lalu ada laki laki yang menjelaskan komposisi bahan seolah kamu tidak pernah belajar, padahal itu memang bidangmu
– Kamu share opini tentang isu sosial, lalu dibalas dengan “kamu kurang baca” tanpa mau mendengar penjelasanmu
– Kamu cerita pengalaman pribadi, malah dijawab dengan “enggak gitu kok sebenarnya” lalu dia menjelaskan pengalaman perempuan… dari sudut pandangnya sendiri
Mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan di dunia digital bisa bikin banyak perempuan memilih diam, membatasi posting, atau ragu untuk berbicara soal hal hal yang sebenarnya mereka kuasai.
Bagaimana Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan Mengikis Rasa Percaya Diri
Yang paling sering terasa dari mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan adalah pelan pelan rasa percaya diri jadi goyah. Apalagi kalau kejadian ini berulang.
Efek Emosional Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan
Saat kamu terus menerus dijelaskan ulang, dipotong, atau diremehkan, tanpa sadar muncul beberapa hal
1. Mulai ragu pada kemampuan sendiri
“Jangan jangan aku memang kurang paham ya?”
2. Takut dianggap berlebihan kalau membalas
“Kalau aku protes, nanti dibilang baper.”
3. Merasa tidak layak berada di ruangan itu
“Mungkin aku belum pantas ada di level ini.”
> “Aku pernah keluar dari sebuah meeting, masuk toilet, dan nanya ke diri sendiri: ‘Pon, kamu beneran nggak cukup pintar atau kamu cuma terlalu sering diremehkan?’ Di situ aku sadar, mansplaining bisa bikin kita mempertanyakan diri sendiri.” – Ponny
Inilah sisi berat mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan. Bukan cuma tentang momen satu dua kali, tapi akumulasi kecil yang menumpuk dan membuat kita mengecilkan diri sendiri.
Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan di Karier dan Ruang Publik
Kalau dibiarkan, mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan bisa meluas sampai ke pilihan hidup dan karier.
Beberapa efek yang sering muncul
– Perempuan jadi lebih jarang mengajukan ide di meeting
– Lebih memilih diam walaupun tahu jawabannya benar
– Menyerahkan panggung presentasi pada rekan laki laki karena “biar cepat diterima”
– Menghindari posisi yang butuh banyak bicara di depan umum
Di industri yang aku jalani, dari beauty sampai kesehatan, aku sering lihat perempuan yang super pintar, super capable, tapi suaranya pelan karena sudah terlalu sering dipotong dan dijelaskan ulang.
Cara Menyadari Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan Tanpa Menyalahkan Diri Sendiri
Salah satu jebakan dari mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan adalah kita malah menyalahkan diri sendiri. “Mungkin aku memang kurang jelas ngomongnya.” “Mungkin aku memang harus lebih banyak belajar dulu.”
Padahal, langkah pertama yang penting adalah menyadari bahwa pola ini nyata dan bukan kamu yang berlebihan.
Mengidentifikasi Pola Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan
Kamu bisa mulai dengan bertanya ke diri sendiri
– Apakah aku sering dipotong saat bicara, terutama oleh laki laki?
– Apakah penjelasanku sering diulang dengan nada menggurui?
– Apakah pengalamanku sering dianggap kurang valid dibanding pendapat laki laki?
– Apakah aku merasa kecil setiap kali diskusi dengan laki laki tertentu?
Kalau jawabannya sering “iya”, besar kemungkinan kamu sedang berhadapan dengan mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan secara langsung.
> “Dulu aku selalu mikir, mungkin aku kurang tegas. Tapi setelah aku ngobrol dengan banyak perempuan lain, pola mansplaining ini ternyata sama dan berulang. Jadi bukan cuma soal kepribadian, tapi soal bagaimana suara perempuan sering ditempatkan.” – Ponny
Menyadari pola ini bukan untuk membenci laki laki, tapi untuk memahami situasi sehingga kamu bisa melindungi dirimu dan suaramu.
Strategi Menghadapi Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan Tanpa Kehilangan Jati Diri
Setelah paham mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan, pertanyaan berikutnya adalah: lalu kita harus bagaimana? Tidak semua orang nyaman untuk konfrontasi langsung, dan itu wajar. Ada banyak cara yang bisa disesuaikan dengan situasi dan kepribadianmu.
Respon Lembut Tapi Tegas pada Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan
Kalau kamu ingin tetap menjaga suasana tapi tidak mau suaramu dihapus, kamu bisa pakai kalimat kalimat seperti
– “Terima kasih, tapi aku sudah cukup familiar dengan topik ini.”
– “Aku sudah menjelaskan bagian itu tadi, mungkin bisa kita lanjut ke poin berikutnya.”
– “Menarik, sebenarnya itu mirip dengan yang aku sampaikan di awal.”
Kalimat seperti ini membantu menandai batas, tanpa harus meninggikan suara.
> “Di satu sesi diskusi, aku pernah bilang: ‘Aku senang kamu tertarik menjelaskan, tapi ini memang bidangku sehari hari, jadi mungkin aku yang jelaskan detailnya.’ Setelah itu ruangan langsung diam sebentar, lalu lanjut. Kadang kita cuma perlu satu kalimat untuk mengembalikan posisi.” – Ponny
Membangun Support System untuk Mengurangi Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan
Mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan jauh lebih ringan kalau kita tidak menghadapinya sendirian. Di tempat kerja, komunitas, atau lingkaran pertemanan, kamu bisa
– Cari rekan yang mau jadi “ally”, yang membantu mengembalikan kredit ke kamu saat kamu dipotong
– Saling menguatkan sesama perempuan, misalnya dengan menegaskan ulang ide teman perempuan yang diambil alih orang lain
– Membiasakan diri memberi ruang bicara yang cukup untuk semua orang
Di beberapa meeting, aku dan beberapa rekan perempuan punya kebiasaan sederhana: kalau satu perempuan dipotong, yang lain akan bilang, “Tadi X belum selesai bicara, boleh kita dengarkan dulu?” Hal kecil seperti ini bisa mengurangi mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan di ruangan itu.
Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan di Hubungan Pribadi
Mansplaining tidak cuma terjadi di ruang profesional. Di hubungan pribadi, baik dengan pasangan, keluarga, maupun teman dekat, mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan bisa terasa lebih menekan karena bercampur dengan rasa sayang dan keinginan untuk menjaga hubungan.
Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan dalam Relasi Romantis
Ada beberapa pola yang sering muncul
– Pasangan menjelaskan hal hal sederhana seolah kamu tidak mengerti
– Pendapatmu soal keuangan, rencana hidup, atau karier dianggap “emosional”, sementara pendapatnya dianggap “rasional”
– Saat kamu cerita pengalaman tidak nyaman, responsnya malah “kamu terlalu lebay, sebenarnya nggak gitu” lalu dia menjelaskan versinya
> “Aku pernah ada di hubungan di mana setiap kali aku cerita soal kerjaan, ujung ujungnya dia mengajari aku cara menghadapi orang, cara presentasi, cara ambil keputusan. Bukan karena aku minta saran, tapi karena dia merasa ‘lebih tahu’. Lama lama aku capek dan merasa kecil.” – Ponny
Mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan di hubungan seperti ini bisa membuatmu
– Merasa tidak cukup pintar untuk pasanganmu
– Takut mengutarakan perasaan karena takut diceramahi
– Menganggap dirimu selalu salah atau kurang logis
Menetapkan Batas Sehat terhadap Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan
Kalau kamu merasa pola ini muncul di hubungan dekat, kamu bisa mulai dengan
– Menjelaskan bagaimana perasaanmu saat dijelaskan dengan nada meremehkan
– Meminta pasangan untuk bertanya dulu “kamu mau didengar atau mau dikasih saran?” sebelum menjelaskan panjang lebar
– Menegaskan bahwa pengalamanmu tetap valid meski berbeda dengan sudut pandangnya
Menetapkan batas bukan berarti kamu tidak sayang. Justru itu bentuk sayang ke diri sendiri dan ke hubungan, supaya tidak terus menerus diwarnai mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan yang mengikis rasa saling menghargai.
Mengembalikan Suara Perempuan Setelah Mengalami Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan
Setelah mengalami mansplaining berulang, kadang kita butuh waktu untuk memulihkan diri. Menguatkan lagi suara yang sempat mengecil.
Beberapa hal yang bisa membantu
– Menulis pengalamanmu, supaya kamu melihat jelas bahwa kejadian itu nyata dan tidak berlebihan
– Berbagi cerita dengan perempuan lain, karena seringkali mereka punya pengalaman mirip dan bisa saling menguatkan
– Merayakan pencapaian dan keahlianmu sendiri, sekecil apapun, untuk mengingatkan diri bahwa kamu kompeten
> “Satu hal yang aku pelajari: suaramu berharga, bahkan ketika ada yang mencoba mengecilkannya. Setiap kali aku merasa diremehkan, aku ingat lagi berapa banyak perempuan yang terbantu karena aku berani bicara. Dan itu cukup untuk membuat aku tetap melanjutkan.” – Ponny
Dengan mengenali mansplaining dan dampaknya terhadap perempuan, kita bisa lebih peka saat mengalaminya, lebih berani menetapkan batas, dan lebih lembut pada diri sendiri ketika suara kita sempat goyah. Karena pada akhirnya, tidak ada yang lebih kuat dari perempuan yang tahu nilainya sendiri dan tidak lagi membiarkan orang lain menjelaskannya kembali seolah olah dia tidak paham.


Comment