perempuan di kancah politik
Home / Berita Kecantikan / Perempuan di Kancah Politik Bongkar Bias yang Tersembunyi

Perempuan di Kancah Politik Bongkar Bias yang Tersembunyi

Perempuan di kancah politik sering digambarkan sebagai “warna pelengkap” saja, bukan pemain utama. Padahal, keputusan yang mereka buat ikut menentukan hidup kita sehari hari, dari harga kebutuhan pokok sampai kebijakan cuti melahirkan. Sebagai Ponny, yang biasanya ngomongin skincare dan kesehatan di womenshealth.co.id, aku makin sering ketemu cerita perempuan yang aktif di ruang publik dan politik, dan jujur, bias yang mereka hadapi jauh lebih “tajam” daripada komen pedas di media sosial.

> “Pertama kali ngobrol dekat dengan anggota dewan perempuan, aku kaget. Ternyata perjuangan mereka bukan cuma soal menang pemilu, tapi juga bertahan dari komentar yang meremehkan, candaan seksis, sampai dianggap ‘cuma pajangan’ di foto kampanye.” – Ponny

Di balik foto rapi di baliho dan pidato resmi, ada perjuangan mental, sosial, dan emosional yang jarang dibahas. Yuk kita kupas satu per satu, supaya kita paham kenapa kehadiran perempuan di kancah politik itu bukan sekadar angka di kertas, tapi soal keberanian menantang bias yang sudah mengakar.

Kenapa Perempuan di Kancah Politik Masih Dianggap “Tamu”?

Banyak orang bilang, “Sekarang kan sudah banyak perempuan di parlemen.” Tapi kalau ditanya lagi, “Berapa nama yang kamu tahu dan benar benar kamu dengar gagasannya?” biasanya langsung hening. Di titik ini kelihatan, perempuan di kancah politik masih sering dianggap tamu yang numpang lewat, bukan tuan rumah yang ikut mengatur arah kebijakan.

Perkawinan Usia Anak Bengkulu Fakta Kelam di Baliknya

Warisan budaya yang masih menempel kuat

Sejak kecil, banyak dari kita dibesarkan dengan kalimat klasik: perempuan itu lembut, di rumah saja, yang penting mendukung suami. Ketika perempuan di kancah politik muncul dengan suara tegas, berdebat di forum, atau mengkritik kebijakan, reaksi sebagian orang langsung defensif.

Komentar seperti “kok galak banget sih”, “perempuan harusnya halus”, sampai “pantasnya di dapur, bukan di DPR” masih sering terdengar, terutama di media sosial. Padahal kalau laki laki bicara dengan nada yang sama, disebut tegas dan berwibawa.

> “Waktu aku wawancara seorang politisi perempuan, dia bilang: ‘Kalau aku keras, dibilang emosional. Kalau aku lembut, dibilang tidak tegas. Seolah olah selalu salah.’ Dan kalimat itu nempel banget di kepalaku.” – Ponny

Politik masih dianggap “dunia laki laki”

Selama puluhan tahun, panggung politik didominasi laki laki. Akhirnya terbentuk standar tidak tertulis: gaya bicara, cara berdebat, sampai cara membangun jaringan politik, semuanya mengikuti pola maskulin.

Perempuan di kancah politik yang mencoba membawa gaya sendiri sering dianggap tidak “cocok” atau “kurang kuat”. Padahal justru perbedaan cara pandang itu yang bikin kebijakan lebih seimbang dan manusiawi, misalnya soal kesehatan mental, kekerasan berbasis gender, sampai fasilitas publik ramah ibu dan anak.

Gen Z Generasi Digital Paling Sering Kena Scam?

Bias Tersembunyi yang Menghambat Perempuan di Kancah Politik

Bias terhadap perempuan di kancah politik tidak selalu muncul dalam bentuk hinaan terang terangan. Sering kali ia bersembunyi di balik kalimat manis, aturan yang tampak netral, atau kebiasaan lama yang “sudah dari dulu begitu”.

Standar ganda yang bikin lelah

Perempuan di kancah politik sering diukur dengan standar berbeda. Kalau laki laki ambisius, itu dipuji. Kalau perempuan ambisius, sering dilekatkan dengan kata negatif: haus kekuasaan, cari panggung, tidak tahu diri.

Contohnya:
– Penampilan perempuan dikomentari jauh lebih sering daripada isi gagasannya
– Status pernikahan dan jumlah anak jadi bahan penilaian kelayakan
– Keputusan mereka mudah diserang dengan isu moral, bukan kualitas kerja

> “Aku pernah baca kolom komentar di berita tentang seorang menteri perempuan. Dari ratusan komentar, lebih dari separuh bahas jilbab, lipstik, riasan, dan tubuhnya. Yang bahas program kerjanya? Bisa dihitung jari.” – Ponny

Perempuan dalam Demonstrasi Korea Selatan Lawan Politik Anti-Feminis

Beban ganda: urus rumah dan urus negara

Banyak politisi perempuan bercerita soal dilema klasik: rapat sampai malam, tapi di rumah masih diharapkan tetap jadi ibu sempurna yang selalu hadir. Perempuan di kancah politik sering merasa harus membuktikan dua hal sekaligus: mereka ibu yang baik dan pemimpin yang kompeten.

Tidak sedikit yang akhirnya diserang dengan kalimat:
– “Kasihan anaknya, pasti kurang perhatian”
– “Suaminya tidak keberatan istrinya kerja sampai malam?”

Padahal pertanyaan seperti ini hampir tidak pernah ditujukan ke politisi laki laki.

Media yang kadang ikut menguatkan bias

Media punya peran besar membentuk cara kita melihat perempuan di kancah politik. Sayangnya, pemberitaan masih sering menonjolkan hal hal yang tidak relevan. Misalnya:
– Judul berita menyorot baju, gaya rambut, atau tas yang dipakai
– Menyebut status janda, istri siapa, atau mantan artis, seolah itu identitas utama
– Meng-highlight gosip pribadi lebih dari isi kerja dan gagasan

Ini membuat publik melihat politisi perempuan lebih sebagai figur hiburan ketimbang pengambil keputusan serius.

Perempuan di Kancah Politik dan Perjuangan Mengubah Aturan Main

Walaupun penuh tantangan, semakin banyak perempuan yang memilih tetap bertahan dan mengubah permainan dari dalam. Mereka tidak hanya hadir, tapi juga mendorong aturan dan budaya kerja politik yang lebih sehat.

Kuota perempuan bukan sekadar angka

Banyak negara, termasuk Indonesia, menerapkan kuota minimal perempuan di kancah politik, terutama di daftar calon legislatif. Sering dikritik sebagai “formalitas” atau “sekadar pemanis”, tapi sebenarnya kuota adalah pintu awal.

Kuota ini:
– Memaksa partai politik mencari dan membina kader perempuan
– Membuka ruang bagi perempuan dari berbagai latar belakang untuk masuk
– Mengubah peta diskusi di internal partai, karena perspektif perempuan mulai terdengar

> “Seorang aktivis bilang ke aku, ‘Kuota itu bukan hadiah, tapi alat. Kalau tidak ada pintu, bagaimana kami bisa masuk ruangan?’ Sejak itu, aku melihat kebijakan kuota dengan cara berbeda.” – Ponny

Gaya kepemimpinan yang lebih kolaboratif

Banyak perempuan di kancah politik membawa gaya memimpin yang cenderung kolaboratif. Mereka lebih sering:
– Mengadakan forum dengar pendapat dengan komunitas
– Mengundang pakar dari berbagai bidang sebelum membuat rancangan kebijakan
– Mengangkat isu yang selama ini dianggap “domestik”, seperti kekerasan dalam rumah tangga, kesehatan reproduksi, cuti ayah, dan keseimbangan kerja keluarga

Isu isu ini tadinya sering dianggap bukan prioritas, tapi ketika perempuan punya kursi dan suara, topik tersebut mulai masuk meja pembahasan resmi.

Mengubah cara kampanye dan berkomunikasi

Perempuan di kancah politik juga mulai memanfaatkan media sosial dengan cara yang lebih personal. Mereka:
– Berbagi keseharian sebagai ibu, istri, sekaligus pejabat publik
– Menjelaskan kebijakan dengan bahasa sederhana, bukan jargon rumit
– Membuka ruang tanya jawab langsung dengan warga

Pendekatan ini membuat politik terasa lebih dekat dan manusiawi, tidak jauh dan menakutkan. Di sisi lain, mereka juga harus siap dengan serangan komentar jahat yang sering kali mengarah ke tubuh, wajah, dan kehidupan pribadi.

Cara Kita Bisa Mendukung Perempuan di Kancah Politik Tanpa Terasa Menggurui

Topik perempuan di kancah politik kadang terasa berat, tapi dukungan kita sebenarnya bisa dimulai dari hal kecil yang sangat konkret. Bukan cuma soal memilih saat pemilu, tapi juga cara kita bersikap sehari hari.

Mengubah cara kita berkomentar

Sebelum menulis komentar atau mengirim pesan di media sosial ke politisi perempuan, coba cek diri sendiri:
– Apakah komentarku menyinggung fisik, status pernikahan, atau pilihan berpakaian?
– Apakah aku menilai mereka dari isi gagasan, atau dari gosip yang beredar?

> “Aku pribadi sekarang punya aturan: kalau aku tidak akan menulis komentar itu ke politisi laki laki, aku juga tidak akan menulisnya ke politisi perempuan. Fair itu ya konsisten ke semua orang.” – Ponny

Lebih kritis memilih sumber informasi

Saat membaca berita tentang perempuan di kancah politik, perhatikan:
– Apakah berita itu lebih banyak bahas gosip atau kerja mereka?
– Apakah judulnya clickbait yang merendahkan?
– Apakah ada sudut pandang mereka sendiri, bukan hanya komentar lawan politik?

Kalau isinya tidak sehat, kita bisa memilih untuk tidak menyebarkannya. Algoritma media akan menangkap sinyal bahwa konten seperti itu tidak diminati.

Mengajak ngobrol teman dan keluarga

Dukungan juga bisa dimulai dari obrolan sederhana:
– Meluruskan komentar seksis yang meremehkan politisi perempuan
– Mengajak diskusi soal pentingnya representasi perempuan di kancah politik
– Mengingatkan bahwa isu perempuan bukan cuma urusan perempuan, tapi juga laki laki dan keluarga

Banyak bias lahir dari kebiasaan bercanda yang tidak pernah dikoreksi. Pelan pelan, kita bisa mengubah arah obrolan di meja makan dan grup chat.

Perempuan di Kancah Politik, Role Model Baru untuk Generasi Muda

Buat generasi yang tumbuh dengan internet, sosok perempuan di kancah politik bisa jadi panutan yang sangat kuat. Bukan hanya panutan gaya, tapi juga keberanian bersuara dan mengambil keputusan.

Anak perempuan butuh melihat sosok yang mirip dirinya di panggung publik

Saat anak perempuan melihat ada menteri, gubernur, wali kota, atau anggota dewan perempuan yang aktif, mereka belajar bahwa:
– Kursi pemimpin bukan monopoli satu gender
– Perempuan boleh punya ambisi dan cita cita besar
– Perbedaan pendapat bukan hal yang harus ditakuti

> “Aku pernah ketemu anak SMP yang bilang, ‘Aku pengin kayak ibu itu, bisa ngomong di depan banyak orang dan didengar.’ Itu terjadi setelah dia nonton salah satu sidang yang dipimpin perempuan. Representasi itu nyata banget pengaruhnya.” – Ponny

Anak laki laki juga perlu terbiasa melihat pemimpin perempuan

Ini sama pentingnya. Ketika anak laki laki tumbuh dengan gambaran pemimpin yang beragam, mereka:
– Lebih mudah menghormati kolega perempuan di tempat kerja nanti
– Tidak melihat perempuan hanya sebagai pendukung, tapi juga pengambil keputusan
– Lebih terbuka menerima pasangan hidup yang punya karier dan suara kuat

Perempuan di kancah politik, dengan segala rintangannya, sedang membuka jalan agar hubungan laki laki dan perempuan di generasi berikutnya bisa lebih setara dan sehat.

Dan di titik ini, kita semua punya peran, sekecil apa pun: dari cara kita memilih, cara kita berkomentar, sampai cara kita bercerita ke anak anak tentang siapa saja yang pantas jadi pemimpin.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *