Di era digital yang serba cepat ini, hubungan media dan gender masih jadi PR besar yang belum kelar. Di permukaan, kita melihat banyak perempuan tampil di layar, di feed, di headline. Tapi kalau dikulik lebih dalam, cara media membingkai perempuan dan laki laki sering kali timpang, klise, bahkan melelahkan. Sebagai Ponny, beauty influencer yang sering wara wiri di ruang media, aku ngerasain sendiri gimana pemberitaan bisa mengangkat, tapi juga bisa mengkotakkan identitas kita.
> โPertama kali namaku muncul di judul berita, aku senang. Tapi setelah kubaca, aku sadar: yang diangkat bukan karyaku, tapi tubuhku. Di situ aku mulai sadar betapa kuatnya hubungan media dan gender dalam membentuk cara orang melihat diriku.โ โ Ponny
Di artikel ini, aku mau ngobrol lebih dalam soal bagaimana media dan gender saling mempengaruhi, apa saja bentuk bias yang sering lolos begitu saja, dan gimana kita sebagai pembaca bisa lebih kritis tanpa harus lelah setiap scroll berita.
—
Kenapa Media dan Gender Nggak Bisa Dipisah
Sebelum masuk ke contoh contoh yang lebih spesifik, kita perlu paham dulu kenapa media dan gender selalu berdampingan. Media bukan cuma cermin yang memantulkan realitas, tapi juga mesin yang membentuk cara kita memandang dunia, termasuk soal siapa yang dianggap penting, siapa yang didengar, dan siapa yang โpantasโ tampil di layar.
Ketika media dan gender bertemu, yang muncul bukan sekadar berita tentang perempuan atau laki laki, tapi sekumpulan pesan halus tentang peran, standar, dan batasan. Dari pilihan kata di judul, angle liputan, sampai foto yang dipakai, semua itu ikut menyusun cara berpikir publik tentang perempuan dan laki laki.
> โAku pernah diwawancara panjang soal kerja sosial dan edukasi skincare yang kulakukan di daerah. Tapi begitu tayang, judulnya cuma fokus ke โinfluencer cantik dengan kulit glowingโ. Seakan akan yang lain nggak penting. Di situ aku sadar, ada filter gender yang kuat banget di ruang pemberitaan.โ โ Ponny
—
Cara Halus Media dan Gender Menciptakan Stereotip
Di bagian ini, aku mau ajak kamu mengurai cara cara halus hubungan media dan gender membentuk stereotip yang sering kita telan mentah mentah. Biasanya, ini terjadi lewat pengulangan: pola yang sama muncul di banyak berita, banyak platform, sampai akhirnya terasa โnormalโ.
Media dan Gender dalam Pilihan Kata di Judul
Judul adalah pintu masuk emosi. Di sinilah hubungan media dan gender sering kelihatan paling jelas. Perempuan kerap dikenalkan lewat penampilan, status hubungan, atau emosi, sementara laki laki lebih sering dikenalkan lewat profesi dan prestasi.
Contoh pola yang sering muncul:
– โIbu dua anak ini sukses bangun bisnis skincareโ
– โWanita cantik ini ternyata CEO brand besarโ
– โPresenter seksi ini curhat soal rumah tanggaโ
Bandingkan dengan judul untuk laki laki:
– โFounder muda ini tembus pasar internasionalโ
– โPelatih ini bawa timnya juara ligaโ
Fokusnya beda jauh. Untuk perempuan, identitas pribadinya ditarik duluan ke depan, seolah keberhasilannya adalah kejutan yang butuh embel embel โwanitaโ atau โibuโ. Untuk laki laki, prestasi langsung diangkat tanpa perlu framing tambahan.
> โAku pernah minta ke redaksi: โBoleh nggak, judulnya jangan pakai kata cantik? Tulis aja apa yang aku kerjakan.โ Jawabannya, โTapi itu yang bikin klik naik, Pon.โ Di situ aku sadar, kadang kita bukan cuma korban, tapi juga komoditas dari cara media dan gender dipakai buat jualan.โ โ Ponny
Media dan Gender dalam Pemilihan Foto
Foto bukan sekadar pelengkap. Dalam hubungan media dan gender, foto sering jadi alat kuat untuk mengarahkan persepsi. Perempuan sering dipotret dalam pose manis, tersenyum lembut, atau angle yang menonjolkan tubuh. Laki laki lebih sering ditampilkan dengan pose tegas, formal, atau sedang beraksi di bidang kerjanya.
Untuk tokoh perempuan:
– Foto close up wajah, fokus ke makeup atau rambut
– Pose duduk manis, tangan menyentuh wajah, atau tertawa kecil
– Baju yang lebih diperhatikan daripada konteks kerja
Untuk tokoh laki laki:
– Foto sedang presentasi, memegang mic, atau di depan laptop
– Ekspresi serius, fokus, memimpin
– Background kantor, panggung, atau lapangan
Tanpa disadari, pola ini mengirim pesan: perempuan dilihat dulu, laki laki didengar dulu.
—
Media dan Gender di Pemberitaan Tokoh Publik Perempuan
Kalau kamu perhatikan, tokoh publik perempuan di media sering diperlakukan seolah hidupnya punya dua lembar: lembar โpenampilanโ dan lembar โprestasiโ. Masalahnya, lembar penampilan sering dijadikan halaman depan.
Liputan Perempuan: Antara Tubuh dan Prestasi
Dalam hubungan media dan gender, perempuan yang sukses di bidang apa pun hampir selalu ditarik kembali ke tubuhnya. Bahkan ketika prestasinya jelas jelas kuat, pemberitaan masih sering diselipi komentar soal:
– Berat badan
– Bentuk tubuh
– Pilihan pakaian
– Kondisi kulit atau wajah
Ini terjadi di dunia politik, olahraga, hiburan, sampai dunia bisnis. Seorang atlet perempuan bisa saja baru memecahkan rekor, tapi berita yang muncul: โAtlet cantik ini curi perhatian netizen.โ
> โAda satu berita yang benar benar bikin aku berhenti baca komentar. Isinya tentang campaign edukasi sunscreen yang kulakukan bareng dokter kulit. Tapi di kolom komentar, yang diperdebatkan malah: โDia operasi nggak sih?โ Saat itu aku sadar, betapa kuatnya pola media dan gender membentuk fokus pembaca: dari isi ke fisik.โ โ Ponny
Kehidupan Pribadi yang Terlalu Dibuka
Tokoh perempuan di media juga sering kehilangan hak atas batas privasinya. Hubungan media dan gender di sini kelihatan ketika:
– Status menikah dijadikan topik utama
– Pertanyaan soal anak dianggap wajib di setiap wawancara
– Keputusan pribadi dikomentari seolah urusan publik
Untuk laki laki, kehidupan pribadi memang kadang juga diangkat, tapi tidak seintens dan sekeras perempuan. Seorang perempuan sukses yang belum menikah akan lebih sering diberi label โmasih betah sendiriโ atau โterlalu sibuk berkarierโ, seolah hidupnya belum โlengkapโ.
—
Media dan Gender di Iklan Kecantikan dan Skincare
Sebagai beauty influencer, ini area yang paling sering aku lihat dan rasakan langsung. Iklan adalah ruang di mana hubungan media dan gender benar benar dipakai untuk menjual mimpi, standar, dan rasa tidak cukup.
Standar Kecantikan yang Diulang Terus
Dalam iklan, media dan gender berjalan bareng menciptakan standar yang sempit: kulit harus cerah, mulus, tanpa pori, tubuh harus langsing, rambut harus berkilau. Perempuan jadi target utama, dengan pesan halus seperti:
– โKulit cerah bikin kamu lebih percaya diriโ
– โCantik itu glowing tanpa nodaโ
– โSuami makin sayang kalau kamu merawat diriโ
Pesan ini bukan cuma soal produk, tapi juga soal nilai diri. Seakan akan, perempuan yang tidak memenuhi standar itu kurang berharga, kurang layak diperhatikan, kurang sukses.
> โAku pernah menolak satu brand besar karena script iklannya terlalu menekan. Intinya, kalau kulitmu nggak mulus, kamu akan kalah saing. Aku bilang ke tim mereka, โAku nggak mau jadi wajah yang bikin perempuan lain merasa kurang.โ Di situ aku belajar, hubungan media dan gender bisa kita ubah sedikit demi sedikit lewat pilihan yang kita ambil.โ โ Ponny
Laki Laki di Iklan: Kuat, Maskulin, Tanpa Cela
Hubungan media dan gender di iklan juga membentuk beban untuk laki laki. Mereka sering digambarkan sebagai:
– Harus kuat, sukses, berpenghasilan
– Nggak boleh terlalu peduli penampilan, tapi tetap harus terlihat rapi dan menarik
– Jarang diperbolehkan menunjukkan emosi selain percaya diri atau tegas
Jadi, bukan cuma perempuan yang dikotakkan. Laki laki juga terjebak dalam citra maskulin sempit yang bikin mereka sulit mengakui kerentanan atau kebutuhan perawatan diri tanpa dicap โberlebihanโ.
—
Media dan Gender di Berita Kriminal dan Kekerasan
Ini bagian yang paling sensitif, tapi penting dibahas. Cara media melaporkan kasus kriminal yang melibatkan perempuan sering memperlihatkan hubungan media dan gender yang timpang.
Menyalahkan Korban Lewat Kata Kata
Dalam banyak berita kekerasan terhadap perempuan, kita masih sering menemukan kalimat seperti:
– โKorban memakai rok mini saat kejadianโ
– โKorban pulang larut malamโ
– โKorban dikenal sebagai perempuan yang suka keluar malamโ
Padahal, informasi ini sering tidak relevan dengan inti kasus. Tapi hubungan media dan gender membuat fokus bergeser: bukan pada pelaku, tapi pada perilaku korban. Seolah olah, ada standar โperempuan baik baikโ yang kalau dilanggar, maka kekerasan yang dialami jadi bisa โdimaklumiโ.
> โAku pernah dihubungi untuk diminta komentar soal kasus kekerasan yang viral. Pertanyaan pertama yang muncul ke aku adalah, โMenurut kamu, korban harusnya gimana supaya lebih hati hati?โ Jujur, aku kaget. Kenapa selalu korban yang diminta berubah duluan? Di situ aku benar benar melihat betapa kuatnya pola media dan gender dalam memindahkan beban.โ โ Ponny
Pelabelan yang Berbeda untuk Laki Laki dan Perempuan
Dalam berita kriminal, laki laki pelaku sering mendapat label โkhilafโ, โterpancing emosiโ, atau โtertekanโ, seolah tindakannya bisa dijelaskan oleh situasi. Sementara perempuan pelaku kadang langsung diberi label keras seperti โwanita kejamโ, โibu tegaโ, atau โperempuan jalangโ.
Perbedaan ini menunjukkan bagaimana media dan gender bekerja sama membentuk imajinasi sosial tentang siapa yang lebih mudah dimaafkan dan siapa yang lebih cepat dihakimi.
—
Jadi Pembaca Kritis di Tengah Bias Media dan Gender
Di tengah banjir informasi, kita nggak mungkin mengontrol semua isi media. Tapi kita bisa mengontrol cara kita merespons. Hubungan media dan gender memang rumit, tapi bukan berarti kita cuma bisa pasrah.
Latih โRadarโ Saat Membaca Berita
Beberapa hal yang bisa kamu lakukan setiap kali mengonsumsi berita:
– Perhatikan judul
Tanya ke diri sendiri: โKalau tokohnya laki laki, apakah judulnya akan ditulis begini juga?โ
– Lihat foto
Apakah foto ini fokus ke kerja atau ke tubuh?
– Amati pilihan kata
Apakah ada kata kata yang merendahkan, meromantisasi, atau menyalahkan berdasarkan gender?
> โSekarang, setiap kali namaku muncul di media, aku baca dengan dua kacamata: sebagai subjek berita dan sebagai perempuan. Aku belajar untuk berani protes kalau framingnya merugikan. Nggak selalu didengar, tapi setiap suara kecil tetap penting.โ โ Ponny
Dukung Media yang Lebih Adil pada Media dan Gender
Kita juga bisa secara sadar mendukung media yang:
– Mengangkat prestasi tanpa mereduksinya ke penampilan
– Menggunakan bahasa yang menghormati semua gender
– Tidak menyalahkan korban dalam kasus kekerasan
– Memberi ruang pada suara perempuan, laki laki, dan kelompok gender lain secara seimbang
Dengan begitu, hubungan media dan gender pelan pelan bisa bergeser ke arah yang lebih sehat. Tidak instan, tapi setiap klik, setiap share, dan setiap kritik yang kita berikan punya efek ke arah mana industri ini bergerak.


Comment