Kumpulan Istilah dalam Dunia Skincare yang Sering Disebut

Coba deh kamu ambil salah satu produk skincare-mu, lalu temukan kata asing yang ada di badan produk. Mungkin beberapa produk punya istilah pH balanced, water-based, non-comedogenic, dan sederetan istilah lainnya yang terdengar asing.

Well, ada baiknya kamu pahami dulu masing-masing produk dan kandungan menurut fungsinya, supaya kamu bisa pilih yang kira-kira cocok dengan kebutuhan kulitmu.

Yuk, mulai dengan memahami istilah-istilah di bawah ini! Masing-masing istilah ini bisa jadi pertimbanganmu dalam memilih produk dan kandungan skin care yang tepat, lho.

 

istilah skincare

 

Abrasive vs. Gentle

Kedua istilah ini sering banget digunakan, misalnya dalam kalimat kayak gini: “Jangan gunakan cleanser yang abrasive, cari cleanser yang  gentle, ya!” Apa sih maksudnya?

Suatu produk dengan kandungan yang abrasive berpotensi menggerus atau mengupas lapisan pelindung yang ada di permukaan kulitmu. Sedangkan, produk yang kandungannya gentle bisa menjaga lapisan pelindung tersebut supaya nggak rusak.

Untuk produk cleanser yang gentle, biasanya punya kadar pH yang rendah (kurang dari 6) dan teksturnya gel atau berbusa (foaming). Kamu juga akan menemukan kandungan yang bersifat melembapkan dalam gentle cleanser, seperti mineral oil, stearic acid, glycerin, dan sorbitol. 

Beberapa cleanser yang cukup gentle, misalnya:

 

Active vs. Inactive Ingredients

Setiap produk skin care yang oke pasti punya kandungan aktif dan kandungan inaktif. Singkatnya, kandungan aktif adalah bahan kandungan atau molekul yang bekerja menargetkan masalah kulit. Beberapa contoh kandungan aktif yang sering digunakan dalam produk skin care, misalnya AHA, BHA, Retinol, Vitamin C, Niacinamide, dan lain sebagainya.

Sedangkan, kandungan inaktif hadir dalam produk skin care bukan untuk memberikan manfaat bagi kulit--biasanya, kandungan inaktif berfungsi untuk membuat kandungan aktif dalam produk tetap stabil, mengawetkan, serta “mengangkut” kandungan aktif agar bisa bekerja dengan baik di kulit.

 

Antioksidan

Antioksidan adalah molekul yang melawan radikal bebas dalam tubuh. Tanpa antioksidan, radikal bebas yang terlalu banyak dapat membahayakan kesehatan. Sumber radikal bebas antara lain adalah polusi udara, asap rokok, infeksi bakteri, jamur, atau virus, radiasi, hingga paparan sinar matahari.

Beberapa contoh kandungan antioksidan, yaitu:

 

Anti-inflammatory

Kandungan yang memiliki sifat anti-inflammatory berfungsi meredakan peradangan di kulit. Umumnya, kandungan anti-inflammatory punya kemampuan menghentikan zat-zat dalam tubuh yang menyebabkan reaksi peradangan.

Kulit bisa meradang sebagai respon adanya gangguan dari luar--misalnya sinar UV, polusi, produk skin care yang nggak cocok, dan lain-lain. Kulit meradang atau inflamed mungkin paling sering dialami tipe kulit sensitif atau jenis jerawat yang meradang, seperti papula, pustula, nodul, dan kistik.

Contoh kandungan anti-inflammatory yang cukup populer, misalnya:

 

Anti-microbial / Anti-bacterial

Kandungan bersifat anti-microbial bekerja dengan cara membunuh atau memperlambat penyebaran bakteri, jamur, dan virus. Kalau anti-bacterial, kemampuannya hanya terbatas pada membunuh atau memperlambat penyebaran bakteri.

Umumnya, kandungan dengan sifat anti-microbial atau anti-bacterial sangat direkomendasikan untuk mengatasi jerawat--soalnya, jerawat seringkali disebabkan infeksi bakteri P. acnes.

Ini dia kandungan yang anti-microbial dan anti-bacterial untuk melawan masalah jerawat:

 

Cream vs. Gel

Cream atau gel merupakan gambaran tekstur sebuah produk. Misalnya, produk yang teksturnya cream berarti kaya akan kandungan minyak, memiliki tekstur lembut, tebal, terasa “berat” di kulit, dan cocok untuk kulit yang cenderung kering.

Sedangkan, produk yang teksturnya gel, berarti kaya akan kandungan air, memiliki tekstur yang ringan, serta mudah diserap kulit, sehingga cocok untuk kulit yang cenderung berminyak.

Istilah cream dan gel ini biasanya digunakan untuk menggambarkan produk kayak face wash, moisturizer, atau masker.

Produk dengan tekstur cream:

Produk dengan tekstur gel:

 

Exfoliant

Istilah exfoliant digunakan untuk menyebut kandungan yang punya fungsi mengeksfoliasi kulit. Eksfoliasi berarti mengangkat sel kulit mati yang menumpuk, sehingga kulit bersih maksimal dan sel kulit baru yang lebih sehat dan segar bisa menggantikannya.

Kandungan yang paling dikenal efektif untuk eksfoliasi adalah:

AHA atau Alpha Hydroxy Acid (glycolic acid, lactic acid, mandelic acid, malic acid, citric acid)

BHA atau Beta Hydroxy Acid (salicylic acid)

PHA Polyhydroxy Acid (gluconolactone, galactose, lactobionic acid)

 

Fragrance

Istilah fragrance memiliki arti bahan pewangi. Ada juga istilah no fragrance atau fragrance-free, yang berarti produk tidak mengandung bahan pewangi. Cermati istilah ini ketika mengecek daftar kandungan produk skin care-mu, ya.

 

Humectant vs. Occlusive vs. Emollient

Ketiga istilah ini biasanya digunakan untuk kandungan pelembap.

Humectant adalah kandungan yang bekerja seperti magnet, ia menarik dan menahan kandungan air dari lapisan kulit dan udara di sekitar permukaan kulit. Kandungan ini jadi andalan kulit kering sampai berminyak yang juga butuh kelembapan. Kandungan humectant antara lain adalah Glycerin, Hyaluronic Acid, Beta Glucan, Butylene Glycol, Allantoin, Aloe Vera, dan lain sebagainya.

Occlusive adalah kandungan yang membuat lapisan di atas permukaan kulit. Lapisan ini berfungsi untuk mencegah kandungan air dan kelembapan di kulit menguap keluar. Kandungan-kandungan occlusive mungkin kurang nyaman untuk kulit berminyak, karena terasa berat dan berpotensi menyumbat pori-pori. Tapi, kandungan occlusive cocok banget buat kulit berminyak yang ingin kelembapan di kulit awet. Beberapa kandungan occlusive yaitu Squalene, Lanolin, Beeswax, Petroleum Jelly, dan seterusnya.

Emollient adalah kandungan yang bikin kulit kering terasa halus dan lembut. Ia umumnya terbuat dari kandungan minyak dan lemak, seperti Ceramides, Shea Butter, Jojoba Oil, dan lain-lain.

 

Non-comedogenic

Produk yang non-comedogenic artinya nggak berpotensi menyumbat pori-pori, sehingga nggak menyebabkan muncul jerawat. Produk dan kandungan seperti ini direkomendasikan buat jenis kulit yang berminyak dan rentan jerawatan.

Biasanya, produk dengan label ini bersifat oil-free alias nggak punya kandungan minyak, termasuk mineral oil. Meskipun begitu, ada juga beberapa kandungan minyak murni yang dikenal non-comedogenic, lho! Misalnya, grapeseed oil, sunflower seed oil, dan sweet almond oil--kandungan-kandungan ini bisa ditemukan murni tanpa campuran kandungan aktif dalam produk-produk face oil yang juga cukup aman untuk kulit berminyak.

Berikut beberapa produk non-comedogenic yang nggak akan menyumbat pori-porimu!

 

Oil-based vs. Water-based

Kedua istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan tekstur suatu produk skin care, kayak produk cleanser dan moisturizer.

Produk yang oil-based memiliki bahan dasar minyak. Konsistensinya lebih tebal dan berat, sehingga produk moisturizer yang oil-based ideal untuk kulit kering. Tapi, untuk produk seperti makeup remover yang oil-based atau cleansing oil bisa digunakan kulit kering untuk membersihkan wajah secara maksimal.

Produk yang water-based--baik produk cleanser maupun moisturizer--biasanya jadi pilihan kulit berminyak, karena kemungkinan besar bersifat non-comedogenic dan konsistensinya lebih ringan. 

 

pH

Level pH (potential of hydrogen) menunjukkan tingkat asam atau basa suatu produk. Skala level pH adalah 0-14, produk dinilai bersifat asam (acidic) jika berada di bawah 7, sedangkan di atas bersifat basa (alkaline). Misalnya, kulit wajah manusia punya level pH normal antara 4.7-5.75, sehingga bersifat asam.

Ketika level pH kulit bergeser jauh, baik menuju asam ataupun basa, ini bisa merusak lapisan pelindung alami kulit, yang kemudian bisa memicu munculnya sederet masalah kulit.

Level pH produk skin care juga bisa mempengaruhi level pH kulit. Khususnya untuk tipe kulit sensitif, disarankan untuk menggunakan produk skin care yang level pH-nya nggak jauh dari kulit.

 

SPF

Pasti kamu udah sering dengar atau baca istilah ini, terutama ketika ngomongin sunscreen. SPF adalah singkatan dari sun protection factor. Biasanya, istilah ini juga diikuti angka, misalnya SPF15, SPF30, SPF50, dan seterusnya.

Angka SPF menunjukkan seberapa lama kulitmu akan terbakar (sunburn) ketika terpapar matahari. Misalnya, kalau nggak pakai sunscreen, kulitmu bisa terbakar setelah 10 menit terkena matahari. Dengan sunscreen yang ber-SPF30, kulitmu bisa bertahan 30 kali lebih lama sebelum terbakar,  atau 10 menit x 30 = 300 menit, sekitar 5 jam.

Tapi, karena kemungkinan sunscreen bisa luntur sebelum 5 jam, sebaiknya kamu mengoleskan ulang sunscreen setiap 2 jam--terutama kalau kamu banyak berkegiatan di luar. Oh iya, pilih sunscreen dengan SPF minimal 30 untuk melindungi kulit dengan maksimal, ya.

 

Soothing, Calming

Kedua istilah ini punya arti serupa, digunakan untuk mendeskripsikan kandungan yang mampu meredakan dan menenangkan kulit yang sedang bereaksi iritasi.

Kandungan-kandungan kayak gini sering dicari tipe kulit sensitif serta yang ingin meredakan jerawat yang lagi matang-matangnya.

Beberapa kandungan yang punya kemampuan untuk soothing dan calming adalah:

 

Sekian dulu istilah-istilah yang sering dipakai dalam produk dan kandungan skin care! Sekarang, kamu udah bisa pilih produk skin care sesuai dengan fungsi dan kebutuhan kulitmu, deh.

Jangan segan request ke Phoebe kalau masih ada istilah-istilah lain yang sering kamu temuin dan belum paham artinya, ya. Tinggalkan pertanyaanmu di kolom komentar di bawah, dan Phoebe akan senang hati menjawab!

 

Editor: Cintya L. | Grafis: Indri Novita S.

translation missing: id.blogs.article.tags: eksfoliasi, istilah skincare, non-comedogenic, rekomendasi skincare, skincare routine

Tinggalkan komentar