Sebagai Ponny, beauty influencer yang sehari-hari bicara soal skincare, body care, dan self love di womenshealth.co.id, aku makin sering ketemu cerita yang bikin merinding. Di balik wajah glowing dan feed estetik, ada begitu banyak perempuan yang hidup dalam ketakutan, bahkan kehilangan nyawa karena femisida kekerasan berbasis gender. Ini bukan cuma istilah rumit di laporan penelitian, ini realita yang bisa terjadi pada sahabatmu, tetanggamu, bahkan mungkin dirimu sendiri tanpa kamu sadari.
Apa Itu Femisida Kekerasan Berbasis Gender dan Kenapa Kamu Harus Peduli
Sebelum kita ngobrol lebih jauh, penting banget buat ngerti dulu apa itu femisida kekerasan berbasis gender. Femisida adalah pembunuhan terhadap perempuan yang terjadi karena ia adalah perempuan, terkait erat dengan relasi kuasa, kontrol, dan kebencian berbasis gender. Bukan sekadar kasus kriminal biasa, tapi ujung paling ekstrem dari rangkaian kekerasan yang sering kali sudah berlangsung lama.
Femisida kekerasan berbasis gender biasanya terjadi setelah bertahun-tahun kekerasan fisik, psikis, ekonomi, dan seksual. Pelakunya sering kali orang terdekat: suami, pacar, mantan, atau anggota keluarga. Di permukaan, hubungan itu mungkin terlihat normal, tapi di dalamnya penuh kontrol, ancaman, dan ketidakamanan.
> “Aku pernah ketemu follower yang bilang, ‘Kak, aku baru boleh pakai skincare kalau suami yang pilih dan yang bayar, kalau aku beli sendiri dia marah.’ Dari luar kelihatannya sepele, tapi buatku itu red flag. Kontrol sekecil apa pun, kalau dibiarkan, bisa jadi pintu ke kekerasan yang lebih parah.” – Ponny
Buat kamu yang merasa, “Ini kayaknya terlalu jauh dari hidupku,” coba ingat lagi berapa kali kamu dengar berita “cekcok rumah tangga berujung maut” atau “pacar bunuh kekasih karena cemburu”. Itulah femisida, tapi sering disamarkan seolah hanya konflik biasa.
Bentuk Femisida Kekerasan Berbasis Gender yang Sering Tersamarkan
Banyak orang mengira femisida kekerasan berbasis gender itu selalu terlihat jelas dan brutal. Padahal, sebelum sampai ke pembunuhan, sering ada pola yang berulang dan di-normalisasi. Di sini aku mau kupas lebih detail supaya kamu bisa lebih peka.
Femisida Kekerasan Berbasis Gender di Hubungan Pacaran
Di hubungan pacaran, femisida kekerasan berbasis gender sering diawali dengan sikap posesif yang dikemas sebagai “bukti cinta”. Mulainya bisa dari:
– Melarang kamu nongkrong dengan teman tertentu
– Meminta password media sosialmu
– Mengatur baju yang boleh dan tidak boleh kamu pakai
– Marah kalau kamu telat balas chat beberapa menit
Lalu pelan-pelan naik level:
– Menghancurkan barangmu saat marah
– Menampar, mendorong, atau mencengkeram lengan dengan keras
– Mengancam, “Kalau kamu pergi, aku bunuh kamu atau bunuh diri”
Ancaman seperti ini sering dianggap “lebay” atau drama, padahal itu sinyal bahaya. Banyak kasus femisida berawal dari kalimat-kalimat seperti ini yang tidak pernah ditangani serius.
> “Ada satu DM yang nggak pernah aku lupa. Seorang cewek cerita, pacarnya pernah bilang, ‘Kalau kamu putusin aku, bakal ada berita di TV besok.’ Waktu itu aku cuma bisa bilang, ‘Keluar sekarang juga, jangan tunggu bukti.’ Karena kalau nunggu bukti, bisa-bisa kamu nggak sempat cerita ke siapa-siapa lagi.” – Ponny
Femisida Kekerasan Berbasis Gender dalam Pernikahan
Di pernikahan, femisida kekerasan berbasis gender sering tertutup oleh label “urusan rumah tangga”. Perempuan ditekan untuk bertahan demi anak, demi keluarga, demi status sosial. Polanya biasanya seperti ini:
– Suami mengontrol keuangan, istri tidak punya akses uang sendiri
– Keputusan besar selalu di tangan suami, istri hanya mengikuti
– Kekerasan fisik dibungkus dengan alasan “mendidik” atau “istri kurang patuh”
– Keluarga besar menyuruh istri sabar, bukan menyuruh suami berhenti melakukan kekerasan
Saat kekerasan makin sering dan makin parah, risiko femisida meningkat. Perempuan yang mencoba pergi atau menggugat cerai sering mendapat ancaman, dibuntuti, bahkan diserang di tempat umum. Banyak kasus di mana korban sudah lapor berkali-kali, tapi tidak mendapat perlindungan memadai.
Femisida Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Publik dan Digital
Femisida kekerasan berbasis gender tidak selalu terjadi di rumah. Bisa juga muncul di ruang publik dan digital:
– Perempuan diburu dan diserang karena pakaian, pekerjaan, atau pilihan hidupnya
– Perempuan yang vokal di media sosial mendapat ancaman pembunuhan
– Kekerasan seksual yang direkam lalu disebar, disertai ancaman akan “menghabisi” korban
Di era digital, ancaman bukan cuma lewat fisik, tapi juga lewat pesan, komentar, dan sebaran konten intim tanpa persetujuan. Banyak perempuan yang hidup dalam ketakutan setiap kali notifikasi ponsel berbunyi.
Kenapa Femisida Kekerasan Berbasis Gender Sering Dianggap Bukan Masalah Serius
Salah satu alasan kenapa femisida kekerasan berbasis gender terus berulang adalah karena banyak orang menolak mengakuinya sebagai masalah serius. Ada beberapa hal yang sering terjadi di sekitar kita tanpa kita sadari.
Normalisasi Kekerasan dan Romantisasi Cemburu
Kita tumbuh dengan tontonan dan cerita yang menggambarkan cemburu berlebihan sebagai bukti cinta. Tokoh laki-laki yang mengatur hidup pasangannya digambarkan romantis, protektif, dan diidamkan.
Padahal:
– Menggeledah ponsel pasangan bukan bentuk sayang, tapi kontrol
– Mengisolasi pasangan dari teman dan keluarga bukan bukti cinta, tapi strategi menguasai
– Mengancam menyakiti diri sendiri jika ditinggalkan bukan tanda tulus, tapi manipulasi
Femisida kekerasan berbasis gender sering berakar dari budaya yang mengajarkan laki-laki bahwa mereka berhak memiliki tubuh dan hidup perempuan. Selama ini, perempuan diajarkan untuk menjaga hubungan, sementara laki-laki jarang diajarkan mengelola emosi dan menerima penolakan.
Menyalahkan Korban dan Menghapus Jejak Kekerasan
Setelah femisida terjadi, sering kali narasinya dibalik:
– “Dia juga sih, suka balas ngomong kasar”
– “Pakaiannya terlalu terbuka, wajar kalau jadi sasaran”
– “Kenapa nggak pergi dari dulu kalau memang disiksa”
Kalimat-kalimat ini menghapus fakta bahwa femisida kekerasan berbasis gender adalah kejahatan yang lahir dari ketimpangan kuasa, bukan sekadar konflik dua orang yang sama kuat. Perempuan yang mencoba pergi sering tidak punya dukungan finansial, sosial, atau perlindungan hukum yang cukup.
> “Waktu aku mulai sering bahas isu kekerasan, ada yang bilang, ‘Pon, kamu kan beauty influencer, ngapain bahas hal berat gitu?’ Jawabanku simpel, ‘Apa gunanya kulit glowing kalau nyawanya nggak aman?’ Bagiku, self care itu juga soal hak untuk hidup tanpa takut dibunuh hanya karena kamu perempuan.” – Ponny
Tanda-Tanda Awal Femisida Kekerasan Berbasis Gender yang Perlu Kamu Waspadai
Sekarang kita masuk ke bagian yang sangat penting buat kamu simpan dan share. Femisida kekerasan berbasis gender jarang datang tiba-tiba. Ada tanda-tanda yang bisa kamu deteksi, baik untuk dirimu sendiri maupun orang di sekitarmu.
Kontrol dan Kepemilikan Berlebihan
Beberapa sinyal yang perlu kamu perhatikan:
– Pasangan memantau lokasi kamu setiap saat dan marah kalau kamu tidak merespons cepat
– Kamu harus minta izin untuk hal-hal kecil seperti nongkrong, belanja, atau sekadar me time
– Dia mengatur baju, makeup, bahkan teman yang boleh kamu hubungi
– Dia merasa punya hak penuh atas tubuhmu, termasuk memaksa hubungan seksual saat kamu tidak mau
Ini bukan sikap protektif, ini bagian dari pola femisida kekerasan berbasis gender yang pelan-pelan mengikis kebebasanmu.
Ancaman Terselubung dan Ledakan Emosi
Perhatikan kalimat-kalimat seperti:
– “Kalau kamu ninggalin aku, kamu bakal nyesel seumur hidup”
– “Tanpa aku, kamu bukan siapa-siapa”
– “Kalau kamu berani cerita ke orang, aku tahu harus ngapain”
Ditambah dengan:
– Meledak marah untuk hal kecil
– Merusak barang-barangmu saat emosi
– Mengemudi dengan sengaja membahayakan saat bertengkar
Ini bukan sekadar temperamen buruk, ini pola yang bisa mengarah ke femisida kekerasan berbasis gender ketika pelaku merasa kehilangan kontrol.
Isolasi Sosial dan Ketergantungan Total
Tanda lain yang sering luput:
– Kamu makin jarang ketemu teman dan keluarga karena pasangan selalu punya alasan untuk melarang
– Kamu tidak punya penghasilan atau akses keuangan sendiri
– Semua aset dan dokumen penting dipegang pasangan
– Kamu merasa tidak punya tempat kembali kalau suatu hari ingin pergi
Kondisi ini membuat perempuan sangat rentan saat kekerasan meningkat. Risiko femisida kekerasan berbasis gender akan lebih tinggi ketika korban tidak punya jaringan dukungan.
> “Beberapa follower pernah bilang ke aku, ‘Kak, aku iri lihat kakak bisa kerja, punya uang sendiri, bisa pergi kapan aja.’ Padahal ini bukan soal gaya hidup, ini soal keamanan. Punya otonomi finansial dan sosial itu salah satu cara paling basic buat melindungi diri dari hubungan yang berbahaya.” – Ponny
Apa yang Bisa Kita Lakukan Saat Menghadapi Femisida Kekerasan Berbasis Gender
Sebagai perempuan, teman, pasangan, keluarga, atau sekadar netizen, kita semua punya peran. Femisida kekerasan berbasis gender bukan sesuatu yang bisa diselesaikan sendirian oleh korban. Butuh lingkungan yang sadar dan siap bergerak.
Kalau Kamu Korban atau Mulai Merasa Tidak Aman
Beberapa langkah yang bisa kamu pertimbangkan:
– Simpan bukti kekerasan seperti foto, chat, rekaman suara, catatan kejadian dengan tanggal
– Cerita ke minimal satu orang yang kamu percaya dan minta mereka menyimpan bukti juga
– Pelajari jalur bantuan seperti layanan pengaduan, pendampingan hukum, dan shelter aman di kotamu
– Usahakan punya dana darurat atas namamu sendiri, meski kecil
– Jangan mengumumkan rencana pergi di media sosial, jaga agar hanya orang tepercaya yang tahu
Femisida kekerasan berbasis gender sering terjadi saat pelaku merasa kehilangan kendali, misalnya saat kamu mengancam pergi. Karena itu, rencana keluar harus dipersiapkan dengan hati-hati, bukan spontan di tengah emosi.
Kalau Temanmu Mengalami Femisida Kekerasan Berbasis Gender
Hal penting yang perlu kamu lakukan:
– Percaya pada ceritanya, jangan meremehkan atau membandingkan dengan kasus lain
– Hindari kalimat seperti “Kamu juga sih, kenapa mau sama dia”
– Tawarkan bantuan konkret, misalnya menginapkan sementara, menyimpan barang, atau menemani lapor
– Simpan nomor layanan bantuan dan share ke dia secara pribadi
– Jangan memaksa dia langsung pergi kalau situasinya belum aman, bantu dia menyusun rencana pelan-pelan
> “Dulu aku pernah salah. Ada teman yang cerita soal kekerasan, aku refleks bilang, ‘Udah, tinggalin aja, ngapain dipertahanin.’ Aku kira itu kalimat penyemangat, ternyata malah bikin dia merasa bodoh dan sendirian. Dari situ aku belajar, mendampingi korban itu bukan soal menyuruh, tapi soal menemani dan percaya.” – Ponny
Kalau Kamu Laki-Laki dan Ingin Ikut Menghentikan Femisida Kekerasan Berbasis Gender
Peran laki-laki sangat penting:
– Challenge candaan yang merendahkan perempuan di tongkrongan
– Belajar mengelola emosi dan menerima penolakan tanpa ancaman
– Dukung pasanganmu untuk punya ruang, teman, dan penghasilan sendiri
– Kalau punya anak laki-laki, ajarkan sejak kecil bahwa tubuh dan hidup perempuan bukan miliknya
Femisida kekerasan berbasis gender tidak akan berhenti kalau hanya perempuan yang bersuara. Laki-laki perlu ikut bicara ke sesama laki-laki, bukan hanya menyatakan diri “pro perempuan” di media sosial.


Comment