Sebagai Ponny, beauty influencer yang sehari hari ngobrol soal skincare dan self love di womenshealth.co.id, aku makin sering ketemu cerita followers yang nyambung banget sama isu besar ini: kesetaraan gender perempuan. Bukan cuma soal karier tinggi atau gaji setara, tapi hal hal kecil yang nyelip di balik komentar, kebiasaan, dan standar yang tanpa sadar kita telan bulat bulat sejak kecil.
Kenapa Kesetaraan Gender Perempuan Masih Jadi “Topik Sensitif”?
Sebelum ngobrol lebih dalam, aku pengin kita jujur dulu. Banyak orang bilang sudah mendukung kesetaraan gender perempuan, tapi di saat yang sama masih bercanda soal “tempat perempuan di dapur”, masih nanya “kok belum nikah” ke perempuan usia 30 ke atas, atau meragukan perempuan yang ambisius di kantor.
Kesetaraan Gender Perempuan Bukan Cuma Soal Karier Tinggi
Sering kali, begitu dengar kata kesetaraan gender perempuan, yang kebayang adalah perempuan jadi CEO, masuk politik, atau punya jabatan penting. Padahal, akar masalahnya jauh lebih halus.
Beberapa hal yang jarang dibahas:
– Cara keluarga membagi tugas rumah sejak kecil
– Cara guru memperlakukan murid laki laki dan perempuan
– Cara teman bercanda soal tubuh dan pilihan hidup perempuan
– Cara lingkungan menilai perempuan yang vokal vs perempuan yang pendiam
Dari luar kelihatan sepele, tapi efeknya panjang. Perempuan tumbuh dengan suara di kepala yang bilang, “Jangan terlalu kelihatan pintar, nanti dibilang sombong,” atau “Kalau terlalu sukses, nanti laki laki minder.”
> “Aku pernah ngerem diri sendiri di meeting, bukan karena gak yakin sama idenya, tapi takut dibilang ‘galak’ dan ‘terlalu dominan’. Padahal kalau laki laki yang ngomong tegas, dibilangnya ‘leadership kuat’.” – Ponny
Standar Ganda yang Menghantam Kesetaraan Gender Perempuan
Sebelum kita bisa maju, kita perlu berani ngaca. Standar ganda ini sering banget ngerusak kesetaraan gender perempuan, tapi jarang diakui karena sudah dianggap “biasa”.
Tubuh Perempuan, Semua Orang Ikut Ngatur
Perempuan tumbuh dengan tekanan yang bertumpuk. Disuruh cantik, tapi jangan terlalu seksi. Disuruh jaga penampilan, tapi kalau terlalu niat dibilang “cuma mikirin fisik”.
Hal yang sering terjadi tapi jarang diomongin:
– Perempuan gemuk: dibilang gak jaga diri
– Perempuan kurus: dibilang sakit atau kurang makan
– Perempuan pakai makeup: dibilang manja atau superficial
– Perempuan tanpa makeup: dibilang kusam dan gak niat
Di sini, kesetaraan gender perempuan diuji. Laki laki jarang banget dikomentari sedetail itu soal berat badan, pori pori, selulit, atau warna kulit.
> “Sebagai beauty influencer, aku sering dapat DM: ‘Kak, kalau aku jerawatan, aku pantas gak sih buat tampil di depan orang?’ Di situ aku sadar, banyak perempuan merasa nilai dirinya cuma diukur dari kulitnya.” – Ponny
Standar “Perempuan Baik” vs “Perempuan Bebas”
Di banyak lingkungan, definisi “perempuan baik” masih sempit:
– Gak boleh terlalu sering keluar malam
– Gak boleh punya banyak teman laki laki
– Gak boleh ngomong blak blakan
– Gak boleh terlihat terlalu ambisius
Sementara kalau laki laki melakukan hal yang sama, dianggap wajar. Di sinilah kesetaraan gender perempuan tersendat. Perempuan dipaksa milih: jadi “baik” menurut standar orang lain, atau jadi diri sendiri tapi siap dihakimi.
Kesetaraan Gender Perempuan di Rumah: Area yang Sering Dianggap Normal
Banyak yang merasa, selama perempuan boleh sekolah dan kerja, berarti kesetaraan gender perempuan sudah tercapai. Padahal, situasi di rumah sering banget menunjukkan hal yang berbeda.
Tugas Rumah Tangga: Bukan Bakat Bawaan Perempuan
Sejak kecil, anak perempuan sering diajarin masak, bersih bersih, dan ngurus adik. Anak laki laki dibiarkan main, belajar, atau fokus ke hal hal “penting”. Lalu saat dewasa, kalau perempuan gak jago masak atau gak telaten beberes, dibilang gak layak jadi istri.
Padahal:
– Tugas rumah tangga bukan bakat alami, tapi skill yang bisa dipelajari siapa saja
– Laki laki dan perempuan sama sama tinggal di rumah, jadi wajar kalau sama sama bertanggung jawab
– Perempuan yang kerja di luar rumah tetap sering dianggap “wajib” mengurus rumah 100 persen
Ini bikin banyak perempuan kelelahan. Secara karier dituntut maksimal, di rumah juga dituntut sempurna. Laki laki yang sekadar “bantu” sedikit saja sudah dipuji setengah dewa.
> “Aku pernah dengar kalimat: ‘Suamiku baik banget loh, dia mau bantu cuci piring.’ Padahal itu rumah bersama. Kata ‘bantu’ di situ aja udah nunjukin kalau beban utamanya dianggap milik perempuan.” – Ponny
Beban Mental yang Menggerus Perempuan Pelan Pelan
Selain tugas fisik, ada yang namanya beban mental. Ini jarang kelihatan, tapi berat.
Contohnya:
– Mengingat jadwal vaksin anak
– Mengatur menu harian
– Mengingat ulang tahun keluarga besar
– Menyusun anggaran belanja rumah
– Mengatur jadwal bersih bersih
Banyak perempuan yang memegang semua ini di kepala. Laki laki mungkin ikut “ngerjain”, tapi yang mikirin dari awal sampai akhir tetap perempuan. Di titik ini, kesetaraan gender perempuan belum benar benar berjalan, walau dari luar tampak “harmonis”.
Dunia Kerja dan Kesetaraan Gender Perempuan yang Masih Setengah Hati
Bergeser ke dunia profesional, isu kesetaraan gender perempuan juga sering tersembunyi di balik kata kata manis seperti “kebijakan ramah perempuan” atau “perusahaan inklusif”.
Perempuan Selalu Diukur dengan Dua Timbangan
Di kantor, perempuan sering menghadapi penilaian ganda:
– Kalau tegas: dibilang galak
– Kalau lembut: dibilang kurang berani ambil keputusan
– Kalau fokus kerja: dibilang gak mikirin keluarga
– Kalau pulang cepat demi anak: dibilang kurang komit ke kerjaan
Sementara laki laki yang tegas dianggap pemimpin kuat, yang fokus kerja dianggap pekerja keras, dan yang pulang cepat demi keluarga dianggap sosok ayah yang manis.
> “Aku pernah diundang sharing di sebuah kantor, dan ada perempuan yang curhat: ‘Kalau aku pulang tepat waktu demi jemput anak, atasanku langsung komentar, tapi kalau rekan laki laki pulang buat nonton bola, dibilangnya ya wajar, kan butuh me time.’” – Ponny
Gaji, Promosi, dan Asumsi yang Diam Diam Menghambat
Beberapa hal yang masih sering terjadi:
– Perempuan dianggap bakal “kurang fokus” setelah menikah atau punya anak
– Promosi kadang diberikan ke laki laki dengan alasan “lebih fleksibel”
– Saat negosiasi gaji, perempuan yang berani minta tinggi dibilang “terlalu menuntut”
Ini bukan sekadar cerita di media sosial, tapi realita yang banyak dialami perempuan di berbagai bidang. Kesetaraan gender perempuan butuh lebih dari sekadar poster motivasi di dinding kantor.
Kecantikan, Self Love, dan Kesetaraan Gender Perempuan
Sebagai beauty influencer, aku sering dibilang: “Pon, bukannya ngomongin skincare dan makeup itu dangkal? Kenapa gak bahas hal yang lebih penting?” Padahal, di balik itu semua, ada hubungan kuat dengan kesetaraan gender perempuan.
Standar Kecantikan yang Bikin Perempuan Merasa Selalu Kurang
Industri kecantikan bisa jadi tempat healing, tapi juga bisa jadi tekanan. Perempuan dibombardir pesan bahwa:
– Kulit harus mulus tanpa pori
– Badan harus langsing tapi tetap berisi di beberapa area
– Rambut harus selalu rapi dan berkilau
– Usia tidak boleh terlihat di wajah
Kalau kita gak sadar, kita akan merasa tubuh kita adalah proyek yang tidak pernah selesai. Seakan akan nilai diri kita baru “layak” kalau memenuhi semua checklist itu.
> “Dulu aku sering insecure banget sama bekas jerawat. Sampai satu titik aku mikir, ‘Aku ini kerja di dunia beauty, tapi kok malah makin benci sama wajah sendiri?’ Di situ aku mulai ubah cara pandang: skincare bukan buat mengejar kesempurnaan, tapi bentuk sayang ke diri sendiri.” – Ponny
Mengubah Cara Kita Bicara ke Diri Sendiri
Salah satu langkah kecil tapi penting buat mendukung kesetaraan gender perempuan adalah mengubah cara kita ngomong ke diri sendiri dan ke perempuan lain:
– Ganti “Aku jelek banget hari ini” jadi “Aku lagi capek, wajar kalau muka kelihatan lelah, istirahat yuk”
– Ganti “Dia kurusan, aku kalah cantik” jadi “Tubuh kami beda, dan itu normal, bukan kompetisi”
– Ganti “Kok dia dandan menor sih” jadi “Dia bebas berekspresi dengan gayanya sendiri”
Semakin kita berhenti mengobjektifikasi diri sendiri dan perempuan lain, semakin kuat posisi kita untuk menuntut kesetaraan gender perempuan di area lain.
Media Sosial, Opini Orang, dan Keberanian Perempuan untuk Bersuara
Media sosial punya dua sisi. Di satu sisi, dia bisa jadi ruang empowering untuk kesetaraan gender perempuan, tapi di sisi lain, bisa jadi sumber tekanan dan serangan.
Saat Perempuan Bersuara, Komentarnya Selalu ke Fisik atau Status
Perempuan yang berani bersuara soal isu sosial, politik, atau hak perempuan, sering dibalas dengan:
– Komentar soal penampilan: “Ngaca dulu deh sebelum ngomong”
– Komentar soal status: “Makanya nikah dulu, baru komentar”
– Komentar merendahkan: “Pasti kurang perhatian suami nih”
Padahal, argumen harusnya dibalas dengan argumen, bukan serangan personal. Di sini, kesetaraan gender perempuan diuji: apakah suara perempuan dianggap setara, atau selalu diserang dari sisi yang gak relevan.
> “Waktu aku mulai sering ngomongin isu perempuan di konten, DM yang masuk gak cuma dukungan. Ada juga yang bilang, ‘Udah lah Kak, fokus skincare aja, jangan bahas hal berat, perempuan tuh pusing kalau mikir terlalu jauh.’ Itu bikin aku makin yakin, topik ini justru harus lebih sering dibahas.” – Ponny
Menggunakan Media Sosial sebagai Ruang Aman untuk Perempuan
Kita bisa pelan pelan mengubah suasana media sosial jadi lebih ramah perempuan:
– Gak ikut nimbrung body shaming
– Gak menyebarkan gosip yang menjatuhkan perempuan lain
– Mendukung konten kreator perempuan yang berani angkat suara
– Melaporkan komentar yang jelas jelas melecehkan
Kecil, tapi kalau dilakukan banyak orang, efeknya besar untuk kesetaraan gender perempuan.
Langkah Kecil yang Bisa Kita Lakukan Sehari hari
Kadang isu besar seperti kesetaraan gender perempuan terasa jauh dan berat. Padahal, perubahan bisa dimulai dari hal yang sederhana di sekitar kita.
Di Keluarga dan Lingkar Terdekat
Beberapa contoh langkah nyata:
– Kalau punya anak laki laki dan perempuan, ajarkan dua duanya tugas rumah
– Berhenti nanya “Kapan nikah” ke perempuan, dan mulai nanya “Kamu lagi senang ngapain belakangan ini?”
– Dukung perempuan di keluarga yang ingin lanjut kuliah, berkarier, atau mulai bisnis
> “Aku punya sepupu yang dulu dibilang ‘ngapain sih kuliah tinggi tinggi, ujung ujungnya ke dapur juga’. Sekarang dia punya usaha sendiri dan bisa bantu banyak orang kerja. Kalimat kalimat yang dulu dianggap bercanda itu ternyata tajam banget kalau diingat lagi.” – Ponny
Di Tempat Kerja dan Lingkungan Profesional
– Dengar dulu sebelum menghakimi perempuan yang ambil cuti karena alasan keluarga
– Berikan ruang bicara yang sama di meeting, jangan cuma laki laki yang dominan
– Kalau kamu pemimpin, evaluasi lagi pembagian tugas dan standar penilaian
Di Dalam Diri Sendiri
– Berhenti membandingkan hidupmu dengan standar “perempuan sempurna” versi orang lain
– Rayakan pencapaian kecilmu, bukan cuma yang besar dan kelihatan
– Berani bilang tidak pada ekspektasi yang bikin kamu kehilangan diri sendiri
> “Bagian tersulit buat aku pribadi adalah belajar bilang ‘tidak’ tanpa merasa bersalah. Tidak untuk standar orang lain, tidak untuk komentar yang merendahkan, dan tidak untuk peran yang dipaksa ke aku hanya karena aku perempuan.” – Ponny


Comment