Satu dekade terakhir, istilah kriminalisasi aktivis lingkungan makin sering muncul di linimasa kita. Bukan cuma di berita serius, tapi juga di thread Twitter, Instagram, sampai obrolan santai di coffee shop. Sebagai Ponny, yang sehari–hari ngomongin skincare dan hidup sehat di womenshealth.co.id, jujur aku makin sulit memisahkan urusan kulit glowing dari isu bumi yang makin “memar” dan orang–orang yang coba melindunginya malah dipidanakan.
> “Aku selalu percaya, kulit sehat itu butuh udara bersih, air yang layak, dan bumi yang tidak sakit. Tapi ternyata, orang yang berusaha menjaga semua itu justru sering duduk di kursi pesakitan. Itu bikin aku nggak bisa diam.” – Ponny
Kenapa Kriminalisasi Aktivis Lingkungan Makin Sering Kita Dengar
Sebelum ngomong lebih jauh, kita perlu paham dulu kenapa istilah kriminalisasi aktivis lingkungan bisa seviral sekarang. Bukan karena tiba–tiba banyak aktivis “nakal”, tapi karena ruang gerak warga yang kritis terhadap proyek–proyek ekstraktif makin sempit.
Pola Umum Kriminalisasi Aktivis Lingkungan yang Sering Terulang
Di banyak kasus, pola kriminalisasi aktivis lingkungan terasa mirip, seperti template yang diulang–ulang:
1. Ada konflik lahan atau proyek besar
Misalnya tambang, perkebunan skala luas, pembangunan PLTU, atau proyek infrastruktur di kawasan hutan dan pesisir. Warga yang merasa terdampak mulai bertanya dan menolak.
2. Aktivis dan warga mulai bersuara
Mereka bikin petisi, aksi damai, diskusi publik, sampai unggahan di media sosial. Di titik ini, suara mereka mulai mengganggu kenyamanan pihak yang diuntungkan dari proyek tersebut.
3. Laporan polisi dan pasal karet muncul
Tiba–tiba ada laporan pencemaran nama baik, perusakan, menghalangi kegiatan usaha, atau bahkan pasal–pasal yang seolah “dipaksa” masuk. Aktivitas advokasi yang sah digeser jadi seolah tindak kriminal.
4. Stigma di ruang publik
Aktivis dilabeli provokator, penghambat pembangunan, anti kemajuan. Framing ini bikin publik ragu untuk berdiri di sisi mereka.
> “Pertama kali aku baca berkas perkara salah satu aktivis, aku bengong. Aksi duduk damai di depan kantor perusahaan, difoto, diliput media, tahu–tahu dijadikan bukti ‘mengganggu usaha’. Rasanya kayak nonton film absurd.” – Ponny
Hubungan Erat Lingkungan, Kesehatan, dan Gaya Hidup Sehari–hari
Buat aku yang sering ngomongin gaya hidup sehat, isu ini bukan sesuatu yang jauh. Polusi udara memperparah jerawat dan iritasi kulit, limbah industri merusak sumber air yang kita pakai mandi dan cuci muka, deforestasi mengubah iklim mikro yang bikin kulit gampang dehidrasi.
Kalau orang–orang yang membela hutan, sungai, dan udara bersih dikriminalisasi, sebenarnya yang diserang bukan cuma mereka, tapi juga hak kita untuk hidup sehat.
Satu Dekade Terakhir: Peta Besar Kriminalisasi Aktivis Lingkungan di Indonesia
Selama 10 tahun terakhir, kriminalisasi aktivis lingkungan tidak terjadi di satu dua titik saja. Dari Sumatra sampai Papua, selalu ada cerita tentang warga yang dikriminalkan karena mempertahankan ruang hidupnya.
Tren 10 Tahun: Dari Kasus Lokal Jadi Sorotan Nasional
Di awal 2010–an, banyak kasus masih terasa “lokal”. Nama–nama aktivis mungkin hanya dikenal di kabupaten atau provinsinya. Tapi makin ke sini, media digital dan jaringan solidaritas bikin kasus–kasus itu naik jadi isu nasional.
Beberapa pola yang tampak dalam 10 tahun ini:
– Peningkatan laporan berbasis pasal karet
Misalnya pasal pencemaran nama baik, UU ITE, atau pasal menghalangi kegiatan usaha.
– Penggunaan aparat untuk mengamankan proyek
Bukan hanya menjaga ketertiban, tapi sering kali ikut mengawal proses kriminalisasi.
– Pengaburan isu lingkungan menjadi isu “ketertiban umum”
Aktivis yang menolak tambang atau PLTU digambarkan mengganggu ketertiban, bukan membela hak lingkungan.
> “Aku pernah ikut diskusi dengan beberapa aktivis daerah. Mereka cerita, keputusan buat bicara di media itu seperti memilih antara menjaga keselamatan diri atau menjaga masa depan kampung. Di titik itu, keberanian punya arti yang sangat literal.” – Ponny
Peran Media dan Opini Publik
Media sosial punya dua sisi. Di satu sisi, ia membantu mengangkat kasus kriminalisasi aktivis lingkungan ke permukaan. Di sisi lain, framing yang salah bisa memperkuat stigma bahwa aktivis adalah pengganggu stabilitas.
Sebagai influencer, aku sering mikir keras sebelum posting:
– Bagaimana menjelaskan isu berat tanpa bikin orang langsung scroll?
– Bagaimana menghubungkan isu lingkungan dengan hal yang dekat, seperti skincare, olahraga, dan kesehatan mental?
Karena kalau tidak dikaitkan dengan hidup sehari–hari, publik akan merasa isu ini “bukan urusan saya”.
Bentuk–Bentuk Kriminalisasi Aktivis Lingkungan yang Sering Terjadi
Supaya kita tidak gampang terkecoh, penting untuk mengenali bentuk–bentuk kriminalisasi aktivis lingkungan yang sering muncul.
Kriminalisasi Lewat Pasal Pidana Umum
Bentuk paling klasik adalah memproses aktivis dengan pasal–pasal pidana umum. Misalnya:
– Pasal perusakan saat warga menghalangi alat berat masuk lahan sengketa
– Pasal penganiayaan ketika terjadi gesekan di lapangan, meski sering kali warga dalam posisi bertahan
– Pasal memasuki lahan tanpa izin padahal itu tanah adat atau tempat mereka hidup turun–temurun
Sering kali, konflik struktural yang panjang direduksi jadi “insiden” sesaat, lalu dijadikan dasar pemidanaan.
Kriminalisasi Berbasis UU ITE dan Citra Perusahaan
Dalam era digital, kriminalisasi aktivis lingkungan juga sering memanfaatkan UU ITE:
– Aktivis menulis kritik di Facebook atau Instagram
– Perusahaan atau pihak tertentu menganggap itu merusak reputasi
– Laporan dibuat dengan dalih pencemaran nama baik
Ini membuat banyak orang takut bersuara di dunia maya, padahal ruang digital seharusnya bisa jadi sarana berbagi informasi soal kerusakan lingkungan.
> “Aku pernah di–DM seseorang yang bilang, ‘Kak, aku mau cerita tentang sungai di kampungku yang tercemar, tapi takut kalau nanti aku dilaporin perusahaan.’ Di situ aku sadar, ketakutan itu nyata, bukan cuma di headline berita.” – Ponny
Intimidasi, Teror, dan Pengawasan
Tidak semua bentuk kriminalisasi langsung berupa penjara. Ada juga:
– Pemanggilan berulang ke kantor polisi
– Patroli aparat yang intens di kampung yang menolak proyek
– Telepon misterius, peretasan akun, atau ancaman samar
Secara psikologis, ini melelahkan. Banyak aktivis yang akhirnya mundur demi melindungi keluarganya.
Mengapa Kriminalisasi Aktivis Lingkungan Mengancam Hak Dasar Warga
Di titik ini, kita perlu melihat lebih dalam: kriminalisasi aktivis lingkungan bukan hanya soal beberapa orang yang ditahan. Ini menyentuh hak dasar yang seharusnya dilindungi.
Hak Atas Lingkungan yang Sehat
Konstitusi menjamin hak warga atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Aktivis lingkungan pada dasarnya sedang membantu negara menjalankan kewajiban itu.
Saat mereka dikriminalisasi, pesan yang sampai ke publik adalah:
– Mengkritik proyek yang merusak lingkungan itu berbahaya
– Menanyakan izin, AMDAL, atau data pencemaran bisa berujung laporan polisi
Ini pelan–pelan mematikan partisipasi warga.
Hak Bersuara dan Hak atas Informasi
Kriminalisasi aktivis lingkungan juga menggerus hak untuk:
– Mengakses informasi tentang kondisi lingkungan
– Menyampaikan pendapat tanpa rasa takut
– Terlibat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut ruang hidup
> “Sebagai orang yang terbiasa tampil di depan kamera, aku sadar betapa berharganya ruang bicara. Bayangkan, kalau setiap kata yang keluar bisa dijadikan alat untuk memenjarakanmu. Itu seperti hidup dengan mic yang selalu menyala, tapi setiap kalimat bisa jadi bumerang.” – Ponny
Peran Perempuan dan Komunitas Lokal dalam Perlawanan
Banyak cerita kriminalisasi aktivis lingkungan berawal dari komunitas kecil yang bahkan tidak biasa berurusan dengan media, apalagi pengadilan. Di sana, perempuan sering berada di garis depan.
Perempuan, Air Bersih, dan Dapur Keluarga
Di banyak desa, perempuan yang paling dulu merasakan perubahan ketika:
– Air sungai tercemar
– Hutan gundul dan sumber air mengering
– Debu tambang masuk ke rumah
Mereka yang harus mencari air lebih jauh, mengatur makanan yang terbatas, dan merawat anak yang sakit. Tidak heran, banyak perempuan yang kemudian berdiri sebagai juru bicara komunitas.
Namun, ketika perempuan tampil di ruang publik, risiko yang dihadapi berlipat:
– Ancaman pada reputasi dan nama baik
– Stigma sebagai perempuan “melawan suami” atau “tidak tahu diri”
– Beban ganda antara mengurus rumah dan menghadapi proses hukum
Solidaritas Komunitas dan Jaringan Pendukung
Untungnya, dalam banyak kasus kriminalisasi aktivis lingkungan, komunitas tidak benar–benar sendiri. Ada:
– Jaringan pendamping hukum
– Organisasi lingkungan
– Jurnalis yang mau mengangkat cerita dari sudut pandang warga
Sebagai influencer, aku merasa punya kewajiban moral untuk ikut menguatkan jaringan ini lewat:
– Memberi ruang di konten untuk cerita mereka
– Menghubungkan mereka dengan media yang lebih besar
– Mengajak audiens untuk peduli dan tidak menyalahkan korban
> “Waktu pertama kali mengundang aktivis desa ke sesi live, aku deg–degan. Takut mereka tidak nyaman, takut dibilang cari sensasi. Tapi setelah live selesai, mereka bilang, ‘Terima kasih, sekarang kami tahu kami tidak sendirian.’ Dan itu rasanya lebih menyentuh daripada angka views.” – Ponny
Apa yang Bisa Kita Lakukan sebagai Warga Biasa
Mungkin kamu merasa, kriminalisasi aktivis lingkungan itu isu besar yang jauh dari keseharianmu. Tapi sebenarnya ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan.
Mulai dari Melek Informasi
Hal pertama yang penting: jangan cuek.
– Baca berita dari berbagai sumber, bukan satu portal saja
– Ikuti akun yang rutin membahas isu lingkungan dan hak warga
– Cek ulang informasi sebelum menyebarkan, terutama jika menyangkut reputasi aktivis
Semakin banyak orang paham pola kriminalisasi, semakin sulit praktik ini dijalankan secara diam–diam.
Gunakan Media Sosial dengan Cerdas
Sebagai pengguna aktif media sosial, kita bisa:
– Mengangkat ulang cerita aktivis yang dikriminalisasi
– Menolak narasi yang menyudutkan mereka tanpa dasar
– Mengingatkan teman bahwa kritik terhadap kerusakan lingkungan bukan kejahatan
> “Aku sering bilang ke followers, repost itu bukan hal sepele. Kadang, satu repost bisa bikin satu kasus kecil di daerah terpencil akhirnya diliput media nasional. Algoritma bisa jadi sekutu kalau kita pakai dengan sadar.” – Ponny
Rawat Empati dan Koneksi dengan Alam
Terakhir, jangan lupa merawat hubungan personal dengan alam. Bukan cuma lewat traveling, tapi juga:
– Memperhatikan dari mana air, listrik, dan makanan kita berasal
– Mengurangi konsumsi yang berlebihan
– Mendukung produk dan brand yang punya komitmen lingkungan yang jelas
Karena pada akhirnya, perjuangan para aktivis itu berkaitan langsung dengan hal–hal kecil yang kita lakukan setiap hari. Dan selama kriminalisasi aktivis lingkungan masih terjadi, suara kita, sekecil apa pun, tetap dibutuhkan.


Comment