Sebagai Ponny yang biasanya ngomongin skincare, lipstick, dan workout ringan di womenshealth.co.id, aku nggak pernah nyangka bakal nulis soal kriminalisasi petani Kumpeh. Tapi makin aku baca, makin aku ngobrol dengan teman pegiat agraria dan lingkungan, hati aku beneran nggak bisa diam. Di balik wajah glowing dan konten cantik di media sosial, ada realitas getir: petani yang mempertahankan tanahnya justru dikriminalkan, salah satunya Bahusni dari Kumpeh.
> “Aku biasa review serum, tapi hari ini aku merasa wajib ‘review’ ketidakadilan. Kalau kulit butuh perlindungan dari polusi, petani butuh perlindungan dari kriminalisasi.” – Ponny
Kasus seperti kriminalisasi petani Kumpeh ini bukan cuma urusan hukum, tapi soal kemanusiaan. Tentang bagaimana tanah yang selama puluhan tahun diolah warga, tiba-tiba berubah status jadi lahan perusahaan, dan ketika petani bertahan, mereka justru dituduh melanggar hukum.
Di artikel ini aku mau ajak kamu pelan pelan memahami kenapa kasus Bahusni dan petani Kumpeh penting banget untuk kita suarakan.
—
Kenapa Kriminalisasi Petani Kumpeh Harus Jadi Perhatian Kita
Sebelum lebih jauh, kita perlu paham dulu: kenapa kriminalisasi petani Kumpeh bukan sekadar isu lokal di Jambi, tapi menyentuh kita semua, bahkan yang tinggal di kota besar dan sibuk dengan skincare routine serta kopi susu favorit.
Di Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, konflik agraria antara warga dan perusahaan sudah berlangsung lama. Tanah yang dulu diolah untuk padi, sayur, dan tanaman lokal lain, perlahan berubah jadi area konsesi perusahaan. Ketika petani berusaha bertahan, menggarap lahan yang mereka yakini adalah ruang hidup mereka, sebagian malah diproses hukum. Salah satu nama yang sering disebut adalah Bahusni, sosok petani yang kini jadi simbol perlawanan dan harapan.
> “Waktu pertama kali baca soal Bahusni, aku langsung keinget betapa gampangnya kita beli beras di supermarket, tanpa pernah mikir ada siapa di balik tiap butirnya.” – Ponny
Yang bikin miris, proses hukum dalam kasus seperti ini sering kali berat sebelah. Petani yang akses informasinya terbatas, kemampuan hukum minim, berhadapan dengan korporasi besar yang punya sumber daya, jaringan, dan kuasa. Di titik ini, keadilan terasa sangat mahal.
—
Memahami Akar Konflik di Balik Kriminalisasi Petani Kumpeh
Sebelum menilai atau menyalahkan, kita perlu ngerti dulu akar persoalannya. Konflik jarang muncul tiba tiba, selalu ada jejak panjang di belakangnya.
Sejarah Singkat Lahan dan Kehidupan Petani Kumpeh
Wilayah Kumpeh dikenal sebagai kawasan dengan lahan subur yang jadi tumpuan hidup banyak keluarga petani. Selama bertahun tahun, warga mengelola tanah secara turun temurun. Mereka menanam, memanen, membangun rumah, dan membesarkan anak di sana.
Lalu datanglah gelombang izin konsesi untuk perusahaan, entah itu untuk perkebunan sawit atau hutan tanaman industri. Di atas kertas, lahan itu dianggap “kosong” atau “tanah negara” yang bisa diberikan izinnya ke perusahaan. Tapi di lapangan, tanah itu bukan kosong. Ada kebun, sawah, rumah, dan kehidupan.
> “Bayangin kamu punya skincare favorit yang kamu rawat, kamu simpan, kamu pakai bertahun tahun. Tiba tiba ada orang datang bilang itu bukan milikmu, lalu diambil begitu saja. Bedanya, buat petani, yang diambil bukan sekadar barang, tapi hidup mereka.” – Ponny
Perbedaan cara pandang soal tanah inilah yang sering jadi sumber konflik. Negara dan perusahaan melihatnya sebagai aset ekonomi. Petani melihatnya sebagai ruang hidup, identitas, dan masa depan anak cucu.
Dari Sengketa Lahan ke Kriminalisasi Petani Kumpeh
Dalam banyak kasus, termasuk kriminalisasi petani Kumpeh, sengketa lahan yang seharusnya bisa diselesaikan lewat mediasi atau penyelesaian agraria yang adil, justru merembet jadi kasus pidana.
Petani yang bertahan di lahannya dituduh melakukan:
– Perambahan kawasan
– Penyerobotan tanah
– Perusakan tanaman perusahaan
– Bahkan dianggap menghalangi kegiatan usaha
Padahal dari kacamata warga, mereka hanya mempertahankan apa yang selama ini mereka kelola. Di sinilah istilah kriminalisasi muncul: tindakan yang seharusnya dilihat sebagai bentuk pembelaan hak, justru dipelintir jadi kejahatan.
—
Bahusni, Wajah Nyata di Balik Kriminalisasi Petani Kumpeh
Di balik istilah yang terdengar “jauh” seperti kriminalisasi petani Kumpeh, ada sosok manusia dengan keluarga, rasa takut, dan harapan. Salah satunya Bahusni.
Siapa Bahusni di Mata Warga Kumpeh
Bahusni dikenal sebagai petani yang vokal membela hak warga atas tanah. Ia bukan pejabat, bukan orang kaya, bukan tokoh besar yang sering tampil di TV. Ia petani biasa yang hidup dari keringat di ladang. Tapi ketika haknya dan hak tetangganya terancam, ia memilih untuk tidak diam.
Keberanian ini punya harga. Bahusni kemudian berhadapan dengan proses hukum. Ia dijadikan tersangka, bahkan sampai masuk penjara. Tuduhannya berkaitan dengan lahan yang selama ini mereka garap, yang di atas kertas sudah masuk wilayah konsesi perusahaan.
> “Waktu dengar cerita soal Bahusni, aku langsung keinget DM dari follower yang bilang: ‘Kak, aku nggak berani speak up di kantor karena takut dipecat.’ Di Kumpeh, ketakutan itu naik level: speak up bisa berujung penjara.” – Ponny
Mengapa Seruan “Bebaskan Bahusni” Menggema
Seruan “Bebaskan Bahusni” bukan sekadar slogan. Itu adalah bentuk protes terhadap cara hukum digunakan. Banyak aktivis agraria, organisasi masyarakat sipil, dan jaringan solidaritas menilai bahwa kasus Bahusni adalah contoh jelas kriminalisasi petani Kumpeh.
Mereka menuntut:
– Peninjauan kembali kasus hukum Bahusni
– Penghentian proses kriminal terhadap petani yang mempertahankan lahannya
– Penyelesaian konflik agraria secara adil, bukan dengan pendekatan pemidanaan
Bahusni jadi simbol bahwa petani bukan penjahat. Mereka adalah penjaga pangan, penjaga tanah, dan bagian penting dari keberlangsungan hidup kita.
—
Dari Kumpeh ke Meja Makan Kita: Kenapa Kita Harus Peduli
Sering kali kita merasa isu seperti kriminalisasi petani Kumpeh terlalu jauh dari keseharian. Tapi kalau ditarik pelan pelan, sebenarnya sangat dekat dengan hidup kita.
Tanah, Petani, dan Piring Makan Kita
Setiap kali kamu makan nasi, sayur, buah, atau minum kopi, ada petani di baliknya. Kalau petani hidup dalam ketakutan, terancam kehilangan tanah, atau dikriminalkan, rantai pangan ikut terganggu.
Petani yang kehilangan lahan bisa terdorong untuk mencari kerja serabutan di kota, sementara produksi pangan lokal menurun. Ketergantungan pada makanan impor meningkat, harga bisa naik, dan kedaulatan pangan kita makin rapuh.
> “Kita sering heboh kalau harga skincare naik. Tapi pernah nggak kita mikir kenapa harga cabai, beras, dan bawang bisa melonjak? Di balik itu, ada cerita panjang soal tanah dan nasib petani.” – Ponny
Lingkungan yang Rusak, Tubuh Kita Ikut Kena
Konflik agraria sering berkaitan dengan ekspansi besar besaran, baik itu sawit, tambang, atau hutan tanaman industri. Ketika lahan warga digantikan oleh monokultur skala besar, lingkungan ikut terpengaruh:
– Hilangnya keanekaragaman hayati
– Rusaknya sumber air
– Peningkatan risiko banjir dan kekeringan
– Pencemaran tanah dan air oleh bahan kimia
Dampaknya bisa sampai ke tubuh kita melalui makanan, air, dan udara. Jadi, peduli pada petani seperti Bahusni juga berarti peduli pada kesehatan diri sendiri.
—
Suara Kecil yang Harus Diperkuat: Solidaritas untuk Petani Kumpeh
Sebagai beauty influencer, aku sadar banget kalau suaraku mungkin terdengar “di luar jalur” ketika ngomongin kriminalisasi petani Kumpeh. Tapi justru karena itulah aku merasa penting buat bersuara.
Dari Feed Cantik ke Isu Serius
Di timeline kita, yang muncul seringnya:
– Review skincare
– Outfit of the day
– Coffee shop aesthetic
– Workout routine
Semuanya sah dan menyenangkan. Tapi sesekali, nggak apa apa kalau feed kita diisi juga dengan hal yang bikin kita mikir lebih dalam. Misalnya:
– Share poster dukungan untuk “Bebaskan Bahusni”
– Repost informasi dari organisasi yang mendampingi petani Kumpeh
– Ikut petisi online yang menolak kriminalisasi petani
> “Buat aku, keberanian itu bukan cuma berani tampil bare face di kamera, tapi juga berani pakai platform kita buat hal yang mungkin kurang populer, tapi penting.” – Ponny
Cara Sederhana yang Bisa Kita Lakukan
Kita mungkin nggak bisa langsung datang ke Kumpeh atau mendampingi Bahusni di pengadilan. Tapi ada beberapa langkah kecil yang tetap berarti:
– Mencari informasi dari sumber yang kredibel tentang konflik agraria di Kumpeh
– Mengikuti akun akun pegiat agraria dan lingkungan, lalu membantu menyebarkan informasi
– Mengajak teman ngobrol soal isu ini, walau pelan pelan dan tanpa menggurui
– Mendukung produk pertanian lokal dan petani kecil di sekitar tempat tinggal kita
Langkah kecil, kalau dilakukan banyak orang, bisa jadi kekuatan besar.
—
Kriminalisasi Petani Kumpeh dan Pentingnya Negara Hadir untuk Warga
Di balik semua ini, ada satu hal mendasar: negara seharusnya hadir melindungi warga, bukan sebaliknya.
Hukum yang Memihak Siapa
Dalam kasus kriminalisasi petani Kumpeh, banyak pihak mempertanyakan:
– Mengapa laporan perusahaan begitu cepat ditindaklanjuti, sementara laporan warga sering diabaikan
– Mengapa petani yang mempertahankan tanah lebih sering jadi tersangka dibanding pihak yang diduga merampas lahan
– Mengapa penyelesaian agraria yang adil begitu lambat, tapi proses pidana bisa sangat cepat
Ini bukan sekadar soal satu dua oknum, tapi tentang bagaimana hukum bekerja di lapangan. Ketika hukum terasa lebih tajam ke bawah dan tumpul ke atas, rasa percaya warga pada negara bisa runtuh.
> “Aku sering bilang ke followers: pilih produk yang benar benar peduli sama kulitmu. Harusnya kita juga bisa bilang ke negara: pilih kebijakan yang benar benar melindungi rakyatmu.” – Ponny
Harapan untuk Penyelesaian yang Manusiawi
Yang dibutuhkan petani Kumpeh bukan cuma pembebasan Bahusni, tapi juga:
– Pengakuan atas hak mereka atas tanah yang sudah mereka kelola lama
– Mekanisme penyelesaian konflik yang adil, transparan, dan melibatkan warga
– Penghentian pendekatan pemidanaan terhadap petani yang memperjuangkan ruang hidup
Negara punya kewajiban untuk memastikan keadilan agraria, bukan sekadar membagi izin usaha.
—
Menghubungkan Self Care dengan Care pada Petani Kumpeh
Buat aku, self care itu bukan cuma masker wajah, serum vitamin C, atau yoga sore hari. Self care juga berarti peduli pada dunia tempat kita hidup, termasuk pada petani yang menjaga pangan dan lingkungan.
Kalau kita bisa meluangkan waktu 10 menit buat skincare routine, mungkin kita juga bisa meluangkan waktu 10 menit buat membaca soal kriminalisasi petani Kumpeh, membagikan informasi, atau ikut menandatangani petisi “Bebaskan Bahusni”.
> “Kulit sehat butuh lingkungan yang sehat. Lingkungan yang sehat butuh petani yang merdeka, bukan yang dikriminalkan.” – Ponny
Bahusni dan petani Kumpeh sedang berdiri di garis depan mempertahankan tanah. Suara kita bisa jadi dorongan dari belakang, agar mereka tidak merasa sendirian.


Comment