Perempuan adat Serawai mungkin tidak sering muncul di feed media sosial kita, tapi kisah hidup mereka menyimpan kekuatan yang bikin aku, Ponny, benar benar terpukau. Saat berkunjung ke Bengkulu dan bertemu para ibu yang sudah 30 tahun menggantungkan hidup dari remis, aku merasa seperti diajak masuk ke dunia lain yang pelan pelan mengubah cara pandangku tentang kerja, tubuh, dan harga diri perempuan.
Mengenal Lebih Dekat Perempuan Adat Serawai dan Laut yang Menghidupi
Sebelum menyelam lebih jauh ke kisah para perempuan adat Serawai, kita perlu kenalan dulu dengan siapa mereka dan seperti apa keseharian mereka di pesisir. Suku Serawai adalah salah satu suku asli di Bengkulu, banyak tinggal di wilayah Bengkulu Selatan, Kaur, sampai ke pesisir pesisir yang langsung menghadap Samudra Hindia.
Di banyak kampung nelayan Serawai, perempuan bukan hanya “pendamping” pencari nafkah. Mereka sendiri turun langsung ke air, menyusuri muara sungai dan pesisir laut untuk mencari remis, sejenis kerang kecil yang hidup di pasir dan lumpur. Dari remis inilah dapur menyala, anak anak sekolah, sampai rumah bisa perlahan diperbaiki.
Yang membuatku tertegun, perempuan adat Serawai tidak menganggap diri mereka “luar biasa”. Bagi mereka, bangun sebelum matahari naik, menyiapkan sarapan, lalu berjam jam membungkuk di air sambil menggali remis adalah hal biasa saja. Padahal, di balik kata “biasa” itu, ada ketahanan tubuh dan mental yang luar biasa.
> “Waktu pertama kali ikut ibu ibu Serawai nyari remis, aku cuma kuat 40 menit. Mereka bisa 4 jam tanpa banyak bicara, cuma suara air dan napas mereka. Di situ aku ngerasa, selama ini aku terlalu sering meremehkan tubuh perempuan yang kerja di alam.” – Ponny
Remis, Harta Kecil yang Menopang Keluarga
Sebelum membahas lebih jauh peran perempuan adat Serawai, kita perlu tahu kenapa remis begitu penting. Remis adalah kerang kecil yang biasanya hidup di dasar sungai, muara, atau pesisir yang berpasir. Bentuknya mungil, tapi kalau dikumpulkan dalam jumlah banyak, bisa jadi sumber penghasilan rutin.
Cara Perempuan Adat Serawai Mencari Remis
Perempuan adat Serawai punya kebiasaan turun ke air saat surut, biasanya pagi atau sore. Mereka membawa alat sederhana seperti:
– Keranjang atau ember plastik untuk menampung remis
– Cangkul kecil atau alat penggali dari kayu dan besi
– Saringan atau tampah untuk memisahkan pasir dan kerang
Mereka berjalan menyusuri air setinggi betis sampai pinggang, lalu menggali pelan pelan di area yang sudah mereka hafal sebagai “lokasi remis”. Pengetahuan ini bukan hasil baca buku, tapi diwariskan dari ibu ke anak perempuan, dari tetangga ke tetangga.
> “Satu hal yang bikin aku kagum, perempuan adat Serawai tidak pernah pakai kata ‘riset’. Tapi mereka tahu kapan remis lebih banyak, kapan harus pindah lokasi, kapan air lagi ‘tidak bersahabat’. Semua dari pengalaman puluhan tahun.” – Ponny
Dalam satu kali turun, mereka bisa menghabiskan 2 sampai 4 jam di air. Hasilnya bervariasi, tergantung musim dan kondisi alam. Kadang dapat banyak sampai ember penuh, kadang hanya cukup untuk dimakan sendiri dan sedikit dijual.
Remis Sebagai Sumber Penghasilan dan Identitas
Remis dijual dalam bentuk segar, kadang sudah dibersihkan, kadang masih bercampur pasir dan air. Harganya memang tidak tinggi, tapi kalau digabung dengan pendapatan suami sebagai nelayan atau buruh, cukup untuk menutupi kebutuhan harian.
Yang menarik, di beberapa kampung, orang langsung bisa menebak, “Ini perempuan adat Serawai yang ahli remis,” hanya dari melihat tangan mereka yang kapalan, kulit yang lebih gelap karena matahari, dan cara mereka berjalan di pasir. Remis bukan hanya sumber uang, tapi juga bagian dari identitas sosial.
Tiga Dekade Bersahabat dengan Air: Kekuatan Tubuh Perempuan Adat Serawai
Beraktivitas di air dan pasir selama 30 tahun bukan hal ringan. Perempuan adat Serawai mengandalkan tubuh mereka sebagai modal utama. Di sini aku benar benar belajar bahwa tubuh perempuan yang sering dianggap “lemah” justru bisa jadi mesin kerja yang sangat tangguh.
Rutinitas Harian yang Jarang Terlihat
Banyak perempuan adat Serawai memulai hari sebelum subuh. Mereka menanak nasi, menyiapkan kopi atau teh untuk suami, menyiapkan bekal anak, lalu membereskan rumah. Setelah itu, barulah mereka bersiap ke sungai atau pantai untuk mencari remis.
Perjalanan ke lokasi tidak selalu dekat. Ada yang harus berjalan belasan menit, melewati jalan berlumpur atau berbatu. Mereka membawa ember kosong, yang nanti akan pulang dalam keadaan penuh dan berat. Setelah kembali, remis harus dibersihkan, dipilah, lalu dijual atau diolah.
> “Aku terbiasa menghitung ‘kalori terbakar’ dari olahraga di gym. Tapi pas ikut mereka seharian, aku sadar, aktivitas mereka jauh lebih intens dari satu sesi workout. Bedanya, mereka tidak menyebutnya olahraga, tapi ‘kerja’.” – Ponny
Tantangan Kesehatan yang Dianggap Biasa
Perempuan adat Serawai yang sudah 30 tahun menggantungkan hidup dari remis sering mengalami:
– Nyeri punggung dan pinggang karena terus menerus membungkuk
– Kulit kering, mengelupas, atau menghitam karena terpapar matahari dan air
– Kaki lecet atau pecah pecah karena sering terendam
– Kelelahan kronis yang jarang mereka akui secara terbuka
Namun, kebanyakan dari mereka tidak punya akses rutin ke layanan kesehatan. Banyak yang hanya mengoleskan minyak gosok, balsem, atau ramuan tradisional. Kuatnya tubuh mereka bukan karena “kebal”, tapi karena sudah terbiasa menahan sakit.
Di titik ini, aku merasa perlu sekali bicara soal self care dengan cara yang nyambung dengan kehidupan mereka, bukan hanya versi “masker dan spa” yang biasa kita lihat di media sosial.
Perempuan Adat Serawai, Remis, dan Cara Mereka Merawat Diri
Sebagai beauty influencer, aku selalu tertarik mengamati bagaimana perempuan di berbagai daerah merawat diri, terutama yang hidup dekat dengan alam. Perempuan adat Serawai yang sudah puluhan tahun di air punya kebiasaan merawat tubuh yang sederhana tapi sangat relevan.
Perawatan Kulit Versi Perempuan Adat Serawai
Setelah seharian di air, kulit mereka jelas butuh perhatian ekstra. Namun, akses produk perawatan sering terbatas, baik karena jarak maupun harga. Jadi mereka mengandalkan hal hal yang ada di sekitar:
– Minyak kelapa buatan sendiri untuk melembapkan kulit kering
– Air rebusan daun tertentu untuk merendam kaki yang pegal
– Lulur tradisional dari beras tumbuk dan kunyit untuk mencerahkan kulit yang kusam
> “Waktu seorang ibu Serawai bilang, ‘Kulit aku memang legam, tapi sehat, itu sudah cukup,’ aku langsung keingat betapa seringnya kita di kota terjebak standar kulit ‘sempurna’ yang tidak realistis.” – Ponny
Di sini aku merasa, edukasi soal sunscreen, perlindungan kulit, dan hidrasi bisa banget disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Bukan sekadar memaksakan produk, tapi menggabungkan kearifan lokal dengan ilmu perawatan kulit yang lebih modern.
Kecantikan yang Lebih Dari Sekadar Wajah
Kecantikan bagi perempuan adat Serawai tidak diukur dari riasan tebal atau busana trendi. Mereka lebih menilai dari:
– Seberapa rajin dan tangguh seorang perempuan bekerja
– Seberapa dia bisa membantu ekonomi keluarga
– Seberapa dia bisa menjaga hubungan baik dengan tetangga dan kerabat
Di tengah tren beauty yang sering fokus pada tampilan luar, bertemu perempuan adat Serawai yang 30 tahun menggantungkan hidup dari remis mengingatkanku bahwa kecantikan juga soal daya tahan, ketulusan, dan cara kita menghargai tubuh yang bekerja keras.
Nilai Hidup yang Bisa Kita Pelajari dari Perempuan Adat Serawai
Setelah menghabiskan waktu duduk di tepi sungai, ngobrol sambil menunggu air surut, aku merasa perempuan adat Serawai bukan hanya “objek cerita”, tapi guru kehidupan yang nyata. Ada beberapa hal yang terus terngiang sampai sekarang.
Soal Kerja Keras yang Tenang
Mereka bekerja tanpa banyak bicara tentang “produktifitas”, “goals”, atau istilah istilah yang sering kita dengar di kota. Tapi ritme hidup mereka sangat disiplin. Mereka tahu kapan harus turun ke air, kapan harus berhenti, kapan harus istirahat walau sebentar.
> “Seorang ibu bilang ke aku, ‘Kalau badan capek, berhenti sebentar. Kalau dipaksa, besok bisa tidak kuat turun lagi.’ Sesederhana itu. Tapi buat aku, itu reminder penting bahwa mendengar tubuh sendiri adalah skill yang harus dilatih.” – Ponny
Soal Harga Diri dan Kemandirian
Perempuan adat Serawai yang menggantungkan hidup dari remis selama puluhan tahun tidak pernah menyebut diri mereka “korban”. Mereka justru bangga bisa ikut menafkahi keluarga. Ada rasa percaya diri yang tumbuh dari kemampuan mereka bertahan hidup dengan mengandalkan alam dan tenaga sendiri.
Mereka juga mengajarkan bahwa pekerjaan yang dianggap “kotor”, “capek”, atau “tidak glamor” tetap layak dihormati. Remis yang kecil kecil itu menjadi simbol betapa hal yang tampak sepele bisa menyusun kehidupan keluarga dari hari ke hari.
Perempuan Adat Serawai dan Harapan yang Tetap Dijaga
Di sela tawa mereka saat bercerita tentang masa muda, ada juga kegelisahan yang tidak bisa diabaikan. Air yang makin sulit ditebak, hasil remis yang tidak selalu stabil, dan anak anak yang banyak memilih merantau ke kota. Namun, perempuan adat Serawai tetap bangun setiap pagi, tetap turun ke air, tetap menggantungkan hidup dari remis yang mereka kenal sejak kecil.
Buatku, kisah perempuan adat Serawai bukan sekadar cerita eksotis dari daerah jauh. Ini adalah cermin tentang bagaimana perempuan, di manapun berada, selalu mencari cara untuk bertahan, merawat keluarga, dan merawat tubuh mereka dengan cara masing masing. Dan di antara riak air dan kerang kecil bernama remis, aku belajar untuk lebih pelan, lebih menghargai, dan lebih jujur pada tubuh sendiri.


Comment