Sebagai Ponny, beauty influencer yang sudah bertahun tahun berkecimpung di dunia media dan kecantikan, aku sering menyaksikan langsung bagaimana rasisme dan patriarki perempuan timur bekerja diam diam tapi menyakitkan. Di depan kamera, kita bicara soal skincare, lipstick, dan self love, tapi di balik layar, banyak perempuan dari Asia, Timur Tengah, atau keturunan timur lainnya masih harus berhadapan dengan komentar bernada rasis, standar kecantikan yang bias, dan aturan gender yang mengekang. Rasisme dan patriarki perempuan timur bukan cuma isu besar di buku teori, tapi sesuatu yang menyentuh tubuh, wajah, karier, dan rasa percaya diri kita setiap hari.
> “Aku pernah dirias untuk sebuah pemotretan, lalu makeup artist bilang, ‘Kita putihkan sedikit ya biar lebih universal.’ Saat itu aku sadar, warna kulit asliku dianggap kurang layak untuk tampil di ruang yang disebut ‘mainstream’.” – Ponny
Memahami Rasisme dan Patriarki Perempuan Timur di Kehidupan Sehari hari
Sebelum kita menyelam lebih jauh, penting untuk memahami bagaimana rasisme dan patriarki perempuan timur hadir dalam keseharian, bukan cuma di berita besar atau peristiwa ekstrem. Banyak perempuan timur tumbuh dengan dua beban sekaligus. Di satu sisi, mereka menghadapi stereotip rasial karena asal daerah, warna kulit, bentuk mata, nama, atau cara berpakaian. Di sisi lain, mereka juga berhadapan dengan aturan patriarkal dari keluarga, komunitas, atau budaya yang mengatur cara mereka berbicara, berpakaian, memilih karier, bahkan memilih pasangan.
Rasisme sering muncul dalam bentuk komentar yang kelihatannya “bercanda” tapi menyisakan luka. Misalnya, disamakan dengan karakter film tertentu hanya karena etnis, atau dianggap “eksotis” seolah olah tubuh mereka adalah objek wisata. Sementara itu, patriarki muncul saat suara perempuan dianggap kurang penting dibanding laki laki, atau ketika pilihan hidup mereka selalu diukur dari standar “perempuan baik baik”.
Keduanya saling bertemu dan menekan di tubuh perempuan timur. Saat melamar kerja, misalnya, rasisme bisa muncul dalam bentuk preferensi terhadap kandidat berpenampilan “lebih barat”, sementara patriarki bekerja ketika perempuan ditanya soal rencana menikah dan punya anak, seakan karier mereka hanya selingan sebelum “tugas utama” sebagai istri dan ibu.
Lapisan Ganda: Ketika Rasisme dan Patriarki Perempuan Timur Saling Menguatkan
Rasisme dan patriarki perempuan timur tidak berdiri sendiri. Mereka seperti dua lapisan yang menumpuk di atas pundak yang sama. Perempuan timur tidak hanya dinilai berdasarkan standar gender, tapi juga ras dan etnis. Inilah yang membuat pengalaman mereka berbeda dengan perempuan lain yang hanya menghadapi salah satunya.
Banyak perempuan timur yang dianggap terlalu “tradisional” untuk posisi kepemimpinan, tapi di saat yang sama dipandang terlalu “modern” dan membangkang ketika mereka bersuara. Di luar komunitas, mereka bisa dianggap minoritas yang asing. Di dalam komunitas, mereka bisa dianggap ancaman jika terlalu vokal. Jadi, ke mana pun mereka melangkah, selalu ada batasan yang tak terlihat.
> “Aku pernah diundang ke sebuah event brand internasional. Di ruangan itu, hanya ada dua perempuan berkulit sawo matang. Sisanya berkulit sangat terang. Seorang tamu sempat bilang, ‘Kamu kelihatan beda banget ya, jadi kelihatan menonjol.’ Dia menganggap itu pujian. Buatku, itu pengingat bahwa standar yang dianggap ‘ideal’ masih sangat sempit.” – Ponny
Rasisme bisa membuat perempuan timur merasa harus “menghaluskan” identitasnya agar diterima. Mengganti nama agar terdengar lebih barat, meluruskan rambut agar dianggap rapi, menipiskan aksen saat berbicara. Di saat yang sama, patriarki bisa memaksa mereka untuk tidak terlalu ambisius, tidak terlalu vokal, dan selalu mengutamakan keluarga di atas diri sendiri. Kombinasi ini membuat banyak perempuan timur hidup dengan rasa bersalah yang terus menerus: salah jika mengikuti standar luar, salah juga jika melawan.
Standar Kecantikan dan Rasisme dan Patriarki Perempuan Timur di Industri Beauty
Dunia kecantikan sering terlihat glamor, tapi di balik kemasan cantik dan campaign “diversity”, bias terhadap perempuan timur masih terasa kuat. Rasisme dan patriarki perempuan timur di industri beauty hadir dalam bentuk yang sangat halus, tapi konsisten menggerus rasa percaya diri.
Selama bertahun tahun, iklan kecantikan di banyak negara menampilkan satu tipe wajah dan satu warna kulit sebagai standar: kulit putih atau sangat terang, hidung mancung, mata besar, tubuh langsing dengan proporsi tertentu. Perempuan timur yang kulitnya lebih gelap, hidungnya lebih lebar, atau matanya sipit sering merasa harus mengubah diri agar mendekati standar ini. Brand skincare yang menjual produk pemutih dengan narasi “naik kelas” atau “lebih cantik kalau lebih putih” adalah contoh klasik bagaimana rasisme merembes ke dalam rutinitas kecantikan.
> “Dulu aku sempat terobsesi punya kulit seputih mungkin. Setiap kali foto bareng teman yang kulitnya lebih terang, aku merasa otomatis ‘kalah cantik’. Butuh waktu lama sampai aku bisa bilang ke diri sendiri, ‘Kulitmu bukan masalah yang harus diperbaiki.’” – Ponny
Patriarki juga memainkan peran besar. Perempuan timur sering diharapkan untuk selalu tampil rapi, feminin, dan “enak dilihat”, namun tidak boleh terlalu menonjol. Makeup boleh, tapi jangan sampai dianggap “terlalu seksi”. Berkarier di dunia beauty boleh, tapi jangan lupa “kewajiban rumah tangga”. Bahkan di media sosial, komentar seperti “Cantik, tapi kok belum nikah?” atau “Jangan terlalu sibuk kerja, nanti laki laki minder” masih sering muncul.
Industri beauty pelan pelan mulai berubah, tapi jejak rasisme dan patriarki perempuan timur masih terasa di pilihan shade foundation yang tidak inklusif, campaign yang hanya menampilkan satu tipe model, hingga cara orang memuji kecantikan yang selalu berpusat pada kulit putih dan tubuh langsing.
Ruang Kerja dan Karier: Rasisme dan Patriarki Perempuan Timur di Kantor Modern
Banyak orang mengira kantor modern yang penuh jargon “diversity and inclusion” otomatis bebas dari bias. Kenyataannya, rasisme dan patriarki perempuan timur masih sangat hidup di banyak ruang kerja. Hanya saja, bentuknya lebih halus dan sering dibungkus dengan kata kata sopan.
Perempuan timur bisa mengalami apa yang disebut “double questioning”: kemampuan mereka diragukan karena gender, lalu kembali diragukan karena ras atau etnis. Saat mereka memimpin rapat, misalnya, ada saja yang menguji ulang keputusan mereka ke rekan laki laki. Ketika mereka mengusulkan ide, ide itu diabaikan, lalu dianggap brilian ketika diucapkan ulang oleh kolega laki laki dari kelompok mayoritas.
> “Aku pernah mengisi workshop kecantikan di sebuah perusahaan. Setelah sesi selesai, salah satu peserta bilang, ‘Tadi aku sempat underestimate karena kupikir kamu cuma influencer dari Asia biasa, tapi ternyata kamu pinter juga ya.’ Di kepalaku, aku cuma bisa jawab, ‘Terima kasih untuk pujian yang setengah menghina itu.’” – Ponny
Rasisme juga muncul saat perempuan timur tidak dipromosikan ke posisi strategis karena dianggap “kurang cocok jadi wajah perusahaan”. Padahal, alasan yang sering dipakai adalah “fit budaya” yang samar. Sementara itu, patriarki bekerja ketika mereka dianggap terlalu emosional, terlalu tegas, atau terlalu mandiri. Jika mereka lembut, dianggap tidak tegas. Jika mereka tegas, dianggap galak.
Di banyak keluarga timur, beban kerja domestik juga masih lebih banyak jatuh ke perempuan. Jadi, ketika perempuan timur mengejar karier, mereka sering harus bekerja dua kali: di kantor dan di rumah. Tekanan ini membuat banyak yang kelelahan dan akhirnya merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi semua ekspektasi.
Tubuh, Pakaian, dan Kontrol: Rasisme dan Patriarki Perempuan Timur atas Penampilan
Tubuh perempuan timur sering menjadi medan kontrol dari dua arah. Dari luar, rasisme melihat tubuh mereka sebagai sesuatu yang “eksotis” atau “unik” dan sering mengobjektifikasi. Dari dalam komunitas, patriarki mengatur bagaimana tubuh itu boleh terlihat di ruang publik.
Rasisme bisa muncul dalam komentar seperti “Perempuan dari daerah X itu terkenal hot” atau “Perempuan timur itu pasti penurut”. Tubuh mereka dipersempit menjadi fantasi atau stereotip. Sedangkan patriarki mengatur panjang rok, bentuk pakaian, gaya rambut, hingga cara mereka tertawa di depan umum. Terlalu tertutup dikritik, terlalu terbuka juga dikritik.
> “Waktu awal awal muncul di media, aku sering dapat komentar soal bajuku. Ada yang bilang, ‘Kalau kamu pakai baju lebih tertutup, kamu kelihatan lebih sopan.’ Di sisi lain, ada yang komentar, ‘Kalau mau jadi influencer terkenal, beraniin dong tampil lebih seksi.’ Lama lama aku sadar, standar orang tidak akan pernah selesai. Yang harus kupenuhi adalah standar kenyamananku sendiri.” – Ponny
Rasisme dan patriarki perempuan timur juga tampak dalam cara orang menilai hijab, rambut panjang, atau gaya modest fashion. Ada yang menganggap perempuan berhijab pasti tertindas, padahal banyak yang memilih dengan sadar. Di sisi lain, ada komunitas yang menghakimi perempuan karena melepas hijab atau mengubah gaya berpakaian. Perempuan timur akhirnya terus berada di tengah tarik menarik penilaian, seolah tubuh mereka milik publik, bukan milik sendiri.
Suara Perempuan Timur: Rasisme dan Patriarki Perempuan Timur di Media dan Konten
Di era digital, banyak perempuan timur mulai bersuara melalui media sosial, blog, podcast, dan konten video. Namun, rasisme dan patriarki perempuan timur masih mengikuti mereka bahkan di ruang yang seharusnya memberi kebebasan. Konten yang dibuat perempuan timur sering ditempatkan dalam kotak tertentu: dianggap hanya cocok membahas hal hal “perempuan”, tidak cukup serius untuk isu besar, atau dinilai dari penampilan dulu sebelum isi.
> “Ada satu komentar yang selalu aku ingat. Waktu aku bikin konten tentang kesehatan mental dan body image, seseorang menulis, ‘Influencer cantik ngomongin mental health itu enak, hidupnya kan sudah enak.’ Komentar itu menghapus semua perjuangan yang tidak terlihat, hanya karena mereka melihat wajah dan latar belakangku.” – Ponny
Rasisme muncul ketika konten kreator perempuan timur dianggap hanya relevan untuk audiens dari etnis yang sama, bukan untuk publik luas. Patriarki muncul saat komentar fokus pada status pernikahan, umur, atau kemampuan mereka ‘menjadi istri yang baik’, alih alih menghargai karya dan pemikiran mereka.
Meski begitu, ruang digital juga membuka peluang. Banyak perempuan timur yang saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan membangun komunitas yang lebih suportif. Mereka mulai membahas rasisme dan patriarki perempuan timur secara jujur, tanpa takut dicap “terlalu sensitif” atau “mencari masalah”.
Merawat Diri di Tengah Rasisme dan Patriarki Perempuan Timur
Di tengah semua tekanan ini, merawat diri bukan lagi sekadar soal skincare dan makeup. Self care buat perempuan timur sering berarti belajar berkata tidak, menetapkan batasan, dan berdamai dengan identitas yang berlapis lapis. Rasisme dan patriarki perempuan timur mungkin tidak bisa hilang dalam semalam, tapi kita bisa membangun benteng lembut untuk melindungi diri.
> “Dulu aku pikir self love itu cuma soal menerima wajah tanpa makeup. Sekarang buatku, self love juga berarti berani bilang, ‘Komentarmu menyakitkan dan aku tidak akan menerimanya,’ lalu melanjutkan hidup tanpa merasa bersalah.” – Ponny
Merawat diri bisa dimulai dari hal kecil
Menyaring siapa yang boleh mengomentari tubuh dan hidup kita. Mengikuti akun akun yang merayakan keberagaman perempuan timur. Memilih brand yang tidak lagi menjual ketakutan pada warna kulit atau bentuk tubuh kita. Mengizinkan diri marah ketika mengalami rasisme dan patriarki, bukan memaksa diri untuk selalu kuat dan tersenyum.
Di setiap langkah kecil ini, ada pesan yang kita kirim ke dunia: bahwa rasisme dan patriarki perempuan timur bukan lagi sesuatu yang kita terima begitu saja. Bahwa tubuh, wajah, suara, dan hidup kita tidak diciptakan untuk memenuhi standar orang lain, tapi untuk kita jalani dengan utuh, dengan segala cerita dan luka yang menyertainya.


Comment